170 Ribu Anak di Sulsel Tak Sekolah, Mayoritas Usia SMA Pilih Bekerja

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Makassar, CNN Indonesia --

Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat jumlah anak tidak sekolah (ATS) di wilayahnya tetap cukup tinggi, mencapai sekitar 170 ribu lebih berasas info terbaru Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin).

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel, Mustakim, mengatakan info tersebut berasal dari integrasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) untuk jenjang SD hingga SMA, serta info EMIS milik Kementerian Agama untuk madrasah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data terbaru dari Pusdatin menunjukkan ATS di Sulawesi Selatan sebanyak 170.429 anak. Sebelumnya 170.433, jadi sudah ada penurunan," kata Mustakim kepada wartawan, Senin (4/5).

Dari jumlah tersebut, kata Mustakim sekitar 48.094 anak telah melalui proses verifikasi lapangan dengan melibatkan operator desa di kabupaten/kota. Hasilnya menunjukkan beragam argumen anak tidak melanjutkan pendidikan.

"Ada nan mengaku tidak mau sekolah lagi, ada juga lantaran aspek ekonomi, jarak sekolah nan jauh, hingga sudah bekerja," jelasnya.

Mustakim mengungkapkan, golongan usia remaja, khususnya setingkat SMA (15-18 tahun), menjadi penyumbang terbesar nomor ATS di Sulsel. Pada usia ini, banyak anak memilih bekerja dibanding melanjutkan pendidikan.

"Di usia SMA ini anak-anak sudah mulai bisa mencari uang, misalnya membantu orang tua sebagai pekerja tani alias bekerja sebagai tukang. Mereka merasa sudah bisa berpenghasilan sehingga tidak melanjutkan sekolah," ujarnya.

Meski demikian, kata Mustakim tidak ada info siswa nan dikeluarkan (drop out/DO) secara resmi dari sekolah. Sebagian kasus terjadi lantaran siswa tidak melaporkan perpindahan ke pendidikan nonformal seperti Paket B alias Paket C, sehingga tetap tercatat sebagai ATS.

Untuk menekan nomor tersebut, pemerintah tengah menyiapkan beragam strategi, salah satunya melalui program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) nan direncanakan mulai diuji coba pada 2026.

"Lewat PJJ, anak-anak bisa tetap belajar tanpa kudu datang ke sekolah. Mereka cukup menggunakan ponsel dan tetap terdaftar di sekolah induk," ujarnya.

Program ini bakal diuji coba di tiga wilayah dengan nomor ATS tinggi, ialah Makassar, Gowa, dan Bone, dengan support sekolah induk dan tenaga pengajar nan telah dilatih.

"Saya rasa ini program pemerintah juga salah satunya adalah dengan adanya sekolah rakyat. Kita tahu berbareng bahwa sekolah rakyat ini kan memang diperuntukkan untuk anak-anak nan masuk desil 1 sampai desil 6 jika tidak salah. Memang itu salah satu juga langkah untuk mengurangi ATS itu nan punya alasan-alasan bahwa tidak bisa di situ," ujarnya.

Hingga April 2026, sebut Mustakim bahwa sekitar 58 ribu hingga 60 ribu anak telah sukses dikembalikan ke sistem pendidikan. Pemerintah menargetkan nomor tersebut terus meningkat.

"Target kita sekitar 80 ribu anak bisa kembali sekolah tahun ini, dan terus bertambah di tahun berikutnya," ujarnya.

(fra/mir/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional