Ilustrasi Tablet(Doc New York Times)
TABLET murah di 2026 mulai keluar dari stigma lemot dan hanya untuk menonton. Dikutip dari TechRadar, peningkatan spesifikasi di segmen entry-level sekarang terlihat jelas, terutama pada kapabilitas RAM dan efisiensi chipset.
Perubahan ini bikin tablet nilai Rp1 jutaan mulai layak dipakai multitasking ringan. Aktivitas seperti buka beberapa aplikasi, split screen, sampai kerja arsip sederhana sudah bisa jalan, meski tetap ada pemisah performa. Berikut 4 opsi nan paling realistis di kelasnya.
1. Advan Tab A10: Murah, Cukup untuk Multitasking Dasar
Advan Tab A10 jadi pintu masuk paling bawah di kategori tablet murah. Dengan RAM 4 GB, perangkat ini tetap sanggup menjalankan beberapa aplikasi sekaligus tanpa langsung drop performa.
Fungsinya untuk basic multitasking. Cocok untuk belajar online, buka browser, alias pindah-pindah aplikasi ringan. Jangan berambisi performa tinggi, tapi untuk nilai Rp1 jutaan, ini sudah cukup masuk akal.
2. Samsung A9, Spek Tinggi di Atas Kertas
Tablet generik seperti Samsung A9 banyak beredar di pasar dunia dengan daya tarik utamanya ada di spesifikasi nan terlihat tinggi, mulai dari RAM besar hingga storage lega.
Secara penggunaan, tablet ini tetap bisa dipakai multitasking ringan sampai menengah. Tapi ada stabilitas sistem sering jadi titik lemah. Ini bukan soal spek, tapi optimasi.
Kalau fokusnya intermezo dan penggunaan kasual, tetap relevan. Tapi untuk kerja nan butuh konsistensi, ada opsi nan lebih aman.
3. Xiaomi Redmi Pad SE: Stabil, Minim Drama
Xiaomi lewat Redmi Pad SE menawarkan keseimbangan nan jarang ada di kelas ini.
Tablet ini bukan nan paling kencang, tapi stabil. UI ringan, performa konsisten, dan jarang drop saat dipakai buka beberapa aplikasi sekaligus. Ini penting, lantaran multitasking bukan hanya soal RAM, tapi juga manajemen sistem. Untuk pelajar alias pengguna nan butuh tablet harian tanpa ribet, ini salah satu opsi paling aman.
4. Huawei MatePad SE 11: Layar Besar, Multitasking Lebih Nyaman
Huawei menghadirkan MatePad SE 11 dengan pendekatan berbeda, bukan sekadar performa, tapi kenyamanan layar.
Dengan ukuran lebih besar, fitur split-screen jadi lebih usable. Buka arsip sembari video call alias browsing terasa lebih lega dibanding tablet kecil.
Kekurangannya ada di ekosistem aplikasi nan tidak sepenuhnya berjuntai pada jasa Google. Tapi untuk penggunaan umum, tetap bisa diakali dan tetap fungsional.
Sumber: TechRadar, Android Central
English (US) ·
Indonesian (ID) ·