Ilustrasi(ANTARA)
MENJELANG musim kemarau nan diperkirakan lebih kering lantaran ada kejadian El Nino Godzilla, BPBD Cilacap, Jawa Tengah telah memetakan wilayah-wilayah rawan kekeringan dan kebakaran rimba serta lahan (karhutla).
Plt Sekretaris BPBD Cilacap Purwanto Kurniawan mengatakan berasas hasil asesmen BPBD, terdapat 13 kecamatan dan 81 desa di Cilacap nan masuk kategori rawan tinggi karhutla.
“Untuk mendukung penanganan, BPBD menyiagakan 69 personel nan tersebar di instansi induk dan sejumlah UPTD. Selain itu, tersedia alokasi 250 tangki air bersih untuk pengedaran ke wilayah terdampak kekeringan,”jelasnya pada Jumat (15/5).
Menurutnya, BPBD juga menyiapkan 15 unit pompa pemadam, tujuh unit light tower, tiga armada tangki air, serta 20 unit tandon air berikut peralatan pendukung lainnya. “Kami menyiapkan solusi jangka panjang bagi desa-desa nan rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau,” katanya.
Sementara, Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, menyebut musim tandus tahun ini diprediksi mulai berjalan pada Mei dasarian II dengan kondisi curah hujan di bawah normal alias lebih kering dibanding biasanya.
BMKG juga memprediksi adanya kejadian El Nino pada periode Mei hingga Juli 2026 serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif nan berpotensi berjalan sampai akhir tahun.
Forecaster BMKG Tunggul Wulung Cilacap, Adnan Dendy Mardika, menjelaskan suhu permukaan laut di wilayah selatan Jawa diperkirakan mulai mendingin pada awal Juni sehingga berakibat pada penurunan curah hujan, khususnya di wilayah pesisir. “Puncak musim tandus diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan lama sekitar enam bulan alias lebih panjang dibanding kondisi normal,” katanya.
BMKG juga merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya penyesuaian agenda tanam, penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan, optimasi air irigasi, patroli wilayah rawan kebakaran, hingga penyediaan suplai air bersih di wilayah terdampak. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·