Jakarta, CNN Indonesia --
Kasus norma terhadap Sekretaris Dewan Pembina PSI, Grace Natalie buntut laporan 40 ormas Islam, memasuki babak baru di internal partai.
Sempat disebut tak bakal mendapat support hukum, Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali menegaskan bahwa partainya tak bakal diam. Meski tak lewat support hukum, Ali mengaku bakal mendorong agar kasus tersebut bisa diselesaikan lewat mediasi dan kekeluargaan.
Menurut dia, meski bagaimanapun, Grace tak bisa dilepaskan dari PSI. Sebab, dia adalah pendiri dan pernah menjadi ketua umum, termasuk jabatannya saat ini sebagai Sekretaris Dewan Pembina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai kapan pun partai ini tidak bakal pernah terlepas dari Mbak Grace, apalagi meninggalkan Mbak Grace. Pasti sekali, lantaran dia menjadi salah satu orang terpenting lah untuk lahirnya partai ini," ujar Ali saat dihubungi, Kamis (6/5).
Dia mengaku bakal membuka komunikasi dengan sejumlah pihak untuk membantu memediasi proses norma terhadap Grace. Bukan hanya dengan para pelapor, namun juga dengan Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla sebagai pihak nan dituding Grace lewat videonya telah menistakan agama.
Sebagai orang dekat JK, Ali mengaku bakal menjadi jembatan dalam penyelesaian kasus tersebut. Dia apalagi telah berkomunikasi dengan orang dekat JK, dan kedua pihak menurut dia mempunyai kemauan agar kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
"Tadi baru saja saya ditelepon oleh salah satu orang nan dekat dengan beliau untuk mendiskusikan perihal ini. Kita sama-sama punya kemauan agar persoalan ini tidak semakin melebar sehingga kita mendorong untuk diselesaikan secara kekeluargaan," katanya.
Grace berbareng koleganya, Ade Armando dan pegiat media sosial Permadi Arya sebelumnya dilaporkan atas dugaan penghasutan. Laporan tersebut diterima dan teregister dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 4 Mei 2026 nan dilayangkan 40 ormas Islam nan tergabung dalam Aliansi untuk Kerukunan Umat Beragama.
Pelaporan itu buntut narasi ketiganya dalam unggahan di kanal media sosial masing-masing soal potongan video pidato Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) di Masjid UGM.
Pidato JK saat itu menjelaskan perihal bentrok di Poso dan Ambon sebagai refleksi alias pelajaran mengenai pentingnya menjaga kerukunan umat beragama. Meski begitu, hingga saat ini, Grace belum merespons soal pelaporan terhadap dirinya.
Ade Armando siap jalani proses hukum
Berbeda dengan Grace, Ade belakangan telah mengumumkan mundur dari PSI. Dia menilai proses norma terhadap dirinya telah terlalu jauh melibatkan partai.
Ade karenanya mengaku siap berjumpa JK dan menyatakan maaf kepada umat Islam dan Nasrani jika pernyataannya di YouTube Cokro TV dinilai menyinggung mereka.
Namun, Ade menegaskan tak ada pernyataannya nan ditujukan untuk melukai JK maupun umat Islam dan Nasrani.
"Kalau saya dipertemukan dengan Pak JK saya juga mau ya. Atau saya kudu minta maaf sama masyarakat umat Islam misalnya alias umat Kristen, saya bersedia," kata Ade dalam bertemu pers di instansi DPP PSI, Selasa (5/5).
Jubir JK, Husain Abdullah tidak menjawab apakah JK mau menerima jika Ade Armando mau bertemu. Ia hanya mengatakan agar semua pihak mengikuti proses norma nan berjalan.
"Karena proses norma sedang berjalan, jadi kita ikuti saja," kata Husain saat dihubungi, Rabu (6/5).
Merespons itu, Ade mengaku tinggal menunggu panggilan kepolisian. Dia menyatakan siap menghadapi proses norma terhadap dirinya. Ade meyakini dirinya tak bersalah, dan menilai tuduhan para pelapor dalam kasus itu terlalu mengada-ada.
"Saya bakal menunggu pemanggilan dari polisi," kata Ade saat dihubungi, Kamis (7/5).
(thr/wis)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·