Di era digital hari ini, menjadi “terlihat pintar” jauh lebih mudah dibanding betul-betul mendalami ilmu. Mahasiswa dapat membikin esai dalam hitungan detik dengan support AI. Ringkasan jurnal bisa selesai tanpa membaca jurnalnya. Bahkan proposal penelitian sekarang dapat muncul hanya lewat satu kali perintah pada aplikasi kepintaran buatan.
Fenomena ini mulai melahirkan apa nan dapat disebut sebagai “kepakaran imitatif”: tampak akademis di permukaan, tetapi rentan dalam kedalaman berpikir.
Masalah ini menjadi tantangan serius bagi perguruan tinggi di Indoensia, terutama perguruan tinggi Islam
. Sebab, tradisi keilmuan Islam sejatinya dibangun bukan hanya melalui hasil akhir, tetapi juga melalui proses panjang belajar, membaca, berdiskusi, dan berguru.
Dalam tradisi pesantren misalnya, seseorang tidak dianggap berilmu hanya lantaran bisa mengutip teks. Keilmuan dibangun melalui sanad, talaqqi, dan relasi guru–murid nan berjalan lama. Ada proses kesabaran intelektual di sana. Santri belajar bertahun-tahun untuk memahami satu kitab, bukan sekadar mencari jawaban instan di internet.
Namun kini, pola transmisi pengetahuan mengalami perubahan besar. Mahasiswa lebih sering belajar melalui YouTube, TikTok, podcast, alias AI dibanding membaca kitab dan berbincang langsung dengan dosen. Otoritas pengetahuan perlahan bergeser dari ruang kelas ke ruang algoritma.
Yang viral dianggap benar. nan ramai ditonton dianggap paling otoritatif.
Padahal ketenaran digital tidak selalu sejalan dengan kualitas akademik.
Akibatnya, kampus menghadapi situasi paradoks. Di satu sisi, teknologi digital membuka akses pengetahuan nan luar biasa luas. Mahasiswa di wilayah sekarang dapat mengikuti kuliah dari kampus besar, mengakses jurnal internasional, alias belajar kitab klasik melalui platform daring. Tetapi di sisi lain, digitalisasi juga membawa budaya instan nan mengikis kedalaman berpikir.
Kita mulai memandang mahasiswa nan bisa membikin tulisan panjang tetapi kesulitan menjelaskan argumennya sendiri. Ada juga pengajar nan produktif secara administratif, namun lemah dalam eksplorasi epistemik. Kampus akhirnya terjebak dalam budaya angka: IPK, sertifikat, publikasi, dan visibilitas digital menjadi ukuran utama kepakaran.
Padahal keilmuan tidak hanya soal output administratif.
Perguruan tinggi Islam sebenarnya mempunyai modal krusial untuk menghadapi krisis ini, ialah tradisi pendidikan kultural. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa pengetahuan bukan sekadar informasi, tetapi juga adab, etika, dan kedalaman pemahaman. Hubungan individual antara pembimbing dan siswa membentuk karakter intelektual nan susah digantikan mesin.
Karena itu, masa depan perguruan tinggi Islam bukan memilih antara tradisi alias teknologi, melainkan gimana mengintegrasikan keduanya secara sehat.
AI tidak perlu dimusuhi, tetapi juga tidak boleh menjadi jalan pintas nan mematikan proses berpikir. Kampus kudu mulai membangun budaya akademik nan menekankan proses, bukan sekadar hasil. Mahasiswa perlu dilatih menggunakan teknologi secara kritis, bukan sekadar konsumtif.
Jika tidak, kita mungkin bakal menghasilkan banyak sarjana nan terlihat pandai di layar digital, tetapi miskin kedalaman intelektual.
Dan ketika itu terjadi, nan lenyap bukan hanya kualitas lulusan, tetapi juga otoritas keilmuan itu sendiri.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·