Air Danau Toba Tergerus, Hujan Buatan Dikerahkan Kejar Defisit

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Air Danau Toba Tergerus, Hujan Buatan Dikerahkan Kejar Defisit Persiapan modifikasi cuaca untuk menjaga debit air Danau Toba.(Dok.Istimewa)

TEKANAN terhadap kesiapan air di Danau Toba-Sumatra Utara kian nyata. Perum Jasa Tirta I (PJT I) tak mau kecolongan. Sejak 9 April 2026, operasi modifikasi cuaca (OMC) langsung digeber selama 25 hari untuk mengejar defisit air nan mulai mengkhawatirkan.

Langkah ini menjadi respons sigap atas ancaman tandus awal nan diperkirakan datang lebih awal. Taruhannya bukan sekadar tinggi muka air danau, melainkan keberlangsungan pasokan air bagi irigasi pertanian, kebutuhan PDAM, industri, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Edison Kurniawan, menegaskan kondisi Danau Toba saat ini sudah berada di bawah periode ideal.

“Berdasarkan pemantauan hingga 8 April 2026, elevasi muka air berada di kisaran 903,00 mdpl, lebih rendah dari pola operasi April periode I sebesar 903,30 mdpl,” ujarnya, Jumat (10/4). 

Selisih tipis itu bukan nomor biasa. Minimnya curah hujan sejak awal tahun 2026 mempercepat laju penurunan muka air. Jika dibiarkan, dampaknya bakal menjalar dari area Danau Toba hingga aliran Sungai Asahan mengganggu sistem pasokan air lintas sektor.

Situasi ini memaksa langkah intervensi. PJT I menggandeng PT Inalum dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk mengintervensi atmosfer melalui teknologi rekayasa cuaca. Tujuannya jelas: “memanen” hujan sebelum musim tandus mencapai puncaknya pada Mei mendatang.

April menjadi jendela waktu nan krusial. Potensi awan tetap tersedia, namun waktu semakin sempit. OMC pun dijalankan sebagai strategi percepatan untuk mengisi ulang persediaan air.

Operasi dilakukan melalui penyemaian awan menggunakan bahan higroskopis Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO). CaO digunakan untuk mengarahkan pertumbuhan awan ke wilayah tangkapan air, sementara NaCl mempercepat proses kondensasi hingga hujan terbentuk. Targetnya tak muluk ialah meningkatkan intensitas hujan untuk menambah persediaan air dan menahan laju defisit nan kian menekan.

Perwakilan PJT I, Gede Santika Dharma, menegaskan operasi ini dilakukan dengan kalkulasi matang. Seluruh tahapan telah melalui kajian akibat komprehensif, termasuk potensi akibat lingkungan. Pengawasan dilakukan ketat oleh tim mahir lintas disiplin, mulai dari meteorologi hingga hidrologi. 

Evaluasi apalagi digelar setiap hari sebelum dan sesudah penerbangan penyemaian untuk memastikan efektivitas operasi tetap terjaga. Langkah ini menjadi penegasan penting. Danau Toba bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simpul strategis ketahanan air, pangan, dan daya nasional. Ketika permukaannya menyusut, nan terancam bukan hanya waduk melainkan stabilitas banyak sektor sekaligus. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia