Amerika Serikat yang Sebenarnya: Kensington dan Retaknya Janji Peradaban Modern

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Warga terdampak krisis opioid terlihat di area Kensington, wilayah nan menjadi simbol epidemi fentanyl di Amerika Serikat.(foto: nationalgeographic.com)

Di banyak tempat di dunia, Amerika Serikat tetap dipandang sebagai simbol puncak modernitas. Negara dengan teknologi paling maju, ekonomi terbesar, universitas kelas dunia, dan pengaruh dunia nan begitu kuat. Selama puluhan tahun, gambaran tentang American Dream dipasarkan sebagai kepercayaan bahwa kerja keras dan kebebasan bakal membawa manusia menuju kehidupan nan lebih baik.

Namun, di area Kensington, kepercayaan itu tampak retak.

Video-video dari area tersebut memperlihatkan manusia berdiri limbung di trotoar, tubuh membungkuk tidak wajar, tatapan kosong, dan sebagian lain tergeletak di jalan pada siang hari. Sebagian media sosial kemudian menyebut kejadian itu sebagai “zombie apocalypse”, istilah terkenal nan muncul akibat penyebaran fentanyl dan xylazine—campuran unsur nan sekarang menjadi simbol krisis opioid di Amerika Serikat.

Media-media besar Amerika seperti NPR dan Time telah berulang kali menyoroti gimana Kensington menjadi salah satu titik paling suram dalam epidemi opioid nasional. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa fentanyl sintetis menjadi penyebab dominan kematian overdosis di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Naloxone, obat penangkal overdosis opioid, digunakan dalam penanganan korban fentanyl di Kensington.(Sumber foto: reuters.com)

Istilah “zombie” memang terdengar sensasional, tetapi di kembali istilah itu terdapat realitas sosial nan jauh lebih kompleks. Mereka nan terlihat kehilangan kesadaran di trotoar bukan sekadar pelaku penyimpangan sosial, melainkan bagian dari manusia modern nan kandas ditopang oleh sistem nan semestinya melindungi mereka.

Krisis ini sesungguhnya tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari kombinasi panjang antara industri farmasi, lemahnya jasa kesehatan mental, ketimpangan ekonomi, rusaknya relasi sosial, dan meningkatnya rasa keterasingan di tengah masyarakat modern.

Sosiolog Prancis Émile Durkheim pernah menjelaskan tentang kondisi anomie, ialah keadaan ketika masyarakat kehilangan pegangan moral dan ikatan sosial nan bisa memberi arah hidup bagi individu. Dalam masyarakat nan berubah terlalu cepat, manusia dapat merasa terlepas dari makna, kehilangan keterhubungan, dan akhirnya jatuh pada kehampaan eksistensial.

Apa nan terlihat di Kensington seolah menjadi ilustrasi nyata dari konsep tersebut.

Kemajuan material rupanya tidak selalu melangkah seiring dengan kesehatan sosial. Kota-kota dapat tumbuh megah, teknologi berkembang pesat, tetapi manusia di dalamnya tetap dapat merasa sendiri, rapuh, dan kehilangan tujuan hidup.

Pemikir Jerman Erich Fromm dalam bukunya The Sane Society juga pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern sering menghasilkan manusia nan tampak “normal” secara ekonomi, tetapi sesungguhnya mengalami keterasingan batin. Menurut Fromm, manusia modern perlahan kehilangan makna relasi sosial lantaran terlalu didorong menjadi bagian dari sistem produksi dan konsumsi.

Fenomena Kensington memperlihatkan gimana modernitas dapat melahirkan paradoks: kemajuan ekonomi meningkat, tetapi kehampaan sosial juga ikut tumbuh.

Hal serupa pernah dikritik filsuf Jerman Herbert Marcuse melalui konsep one-dimensional man. Marcuse memandang masyarakat industri modern condong membentuk manusia nan hidup dalam kenyamanan teknologi, tetapi kehilangan sensitivitas kritis dan kedalaman kemanusiaan. Dalam situasi seperti itu, penderitaan perlahan berubah menjadi perihal biasa.

Petugas medis menangani korban overdosis fentanyl di area Kensington, simbol krisis opioid di Amerika Serikat.(Sumber foto: reuters.com)

Video-video dari jalanan Philadelphia tersebar luas di media sosial, ditonton jutaan orang, lampau lenyap tertelan arus konten berikutnya. Empati sering kali berakhir pada rasa terkejut sesaat. Penderitaan perlahan berubah menjadi konsumsi visual.

Padahal, di kembali tubuh nan roboh di trotoar itu, ada manusia nan pernah mempunyai keluarga, pekerjaan, cita-cita, dan masa depan.

Kensington memang bukan keseluruhan wajah Amerika. Namun, area itu menjadi pengingat krusial bahwa kemajuan peradaban tidak dapat diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi, kekuatan militer, alias kecanggihan teknologi.

Fenomena ini pada akhirnya juga bukan semata persoalan Amerika. Ia menjadi peringatan bagi masyarakat modern di mana pun, termasuk negara-negara berkembang nan mulai menghadapi persoalan kesehatan mental, keterasingan sosial, dan rapuhnya relasi antarmanusia di tengah percepatan teknologi.

Sebab ukuran paling mendasar dari sebuah peradaban pada akhirnya tetap sederhana: seberapa jauh dia bisa menjaga martabat manusianya sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan