Aming Bongkar Sisi Lain Karakter Jahat di Ghost in the Cell

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Aming Bongkar Sisi Lain Karakter Jahat di Ghost in the Cell Aktor Aming dalam movie Ghost in The Cell(Dok IG )

AKTOR Aming kembali tampil dengan pendekatan nan tidak biasa lewat perannya di movie Ghost in the Cell. Dalam movie ini, dia tidak sekadar memainkan sosok antagonis, tetapi menghadirkan karakter nan lebih kompleks.

Alih-alih menjadi villain nan hanya berfaedah sebagai musuh tokoh utama, karakter nan dibawakan Aming justru berada di wilayah abu-abu. Ia mempunyai sisi gelap, tetapi juga menyimpan latar belakang nan membentuk siapa dirinya.

“Karakter ini bukan orang jahat nan kosong, ada argumen kenapa dia jadi seperti itu,” ujar Aming dalam Konferensi pers di Epicentrum.

Karakter Abu-abu, Bukan Sekadar Antagonis

Dalam Ghost in the Cell, Aming memerankan karakter nan tidak bisa langsung dilabeli sebagai jahat. Ada sisi manusia nan tetap terlihat, apalagi di tengah tindakan nan dianggap salah.

Bagi Aming, justru di situlah tantangan sekaligus kekuatan peran ini. Ia berupaya menghindari pendekatan nan klise dan memilih menggali sisi emosional karakter. “Yang menarik buat saya, karakter ini punya sisi nan bisa dipahami, bukan hanya ditakuti,” katanya.

Pendekatan ini membikin karakter terasa lebih hidup. Penonton tidak hanya memandang bentrok di permukaan, tetapi juga diajak memahami apa nan mendorong karakter tersebut bertindak.

Dibangun dari Luka dan Emosi

Salah satu fondasi utama karakter ini adalah latar belakang emosionalnya. Aming menyebut bahwa peran nan dia mainkan dibentuk dari pengalaman hidup nan tidak sederhana, termasuk luka dan tekanan nan memengaruhi langkah berpikirnya.

Ia mencoba masuk ke dalam sisi tersebut agar karakter tidak terasa datar. “Semua orang punya cerita, termasuk nan dianggap jahat,” ungkapnya.

Lewat proses ini, karakter nan muncul bukan sekadar simbol kejahatan, tetapi perseorangan dengan perjalanan hidup nan kompleks.

Realitas nan Sering Diabaikan

Peran Aming di Ghost in the Cell juga membawa lapisan nan lebih luas. Ia tidak hanya memainkan karakter, tetapi juga merefleksikan gimana masyarakat sering memberi label tanpa memahami latar belakang seseorang.

Melalui karakter ini, penonton diajak memandang bahwa realitas tidak selalu sesederhana betul alias salah. Ada banyak aspek nan membentuk seseorang, termasuk pengalaman dan kondisi nan tidak selalu terlihat di permukaan.

Pendekatan ini membikin movie terasa lebih relate. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk memandang manusia dari perspektif pandang nan lebih utuh. Di tangan Aming, karakter jahat di Ghost in the Cell tidak terasa jauh. Justru terasa lebih dekat, dengan konflik, emosi, dan sisi manusia nan sering tidak terlihat. (Intan Safitri/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia