Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga ke titik terendah sepanjang sejarah di level Rp 17.600 mulai merembet ke pedagang di pasar tradisional hingga para petani di desa-desa. Sebab pelemahan mata duit Garuda itu turut mengerek nilai sejumlah komoditas.
Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Senen, Fahmi, mengatakan sebagian besar sapi pangkas di pasar didatangkan dari Australia namalain impor. Namun, lantaran sudah dibesarkan alias dipelihara selama satu hingga dua bulan di Indonesia, daging nan dihasilkan tetap disebut sebagai daging "lokal".
Karena ketergantungan pada impor sapi ini, kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah secara tidak langsung membikin nilai beli sapi pangkas mengalami kenaikan nan cukup signifikan. Pada akhirnya, kondisi ini mendorong nilai daging sapi naik di tingkat pemasok (rumah potong), pedagang, hingga konsumen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga daging naik lantaran dari impornya naik kan, dolar naik katanya. Jadi mungkin pengaruhnya dari sana. Kalau dolar naik, nilai ikut naik, soalnya beli sapinya juga sudah naik. Katanya sih begitu, saya kurang tahu detailnya, tapi dari rumah pangkas bilang begitu, dari impornya memang naik gara-gara itu," jelas Fahmi saat ditemui detikcom di Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Akibatnya, menurut Fahmi, nilai daging sapi di pasar saat ini sudah sangat tinggi, ialah di kisaran Rp 150 ribu per kilogram, dari nilai normal sekitar Rp 130 ribu per kilogram. Begitu juga dengan daging impor kaku nan biasanya berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram, sekarang naik menjadi Rp 120.000-Rp 130.000 per kilogram.
"Kalau daging lokal rata-rata Rp 150 ribu per kilogram, tapi bisa Rp 145 ribu jika lagi turun, sampai Rp 160 ribu jika naik. Impor kaku sekarang Rp 120 ribu, bisa Rp 130 ribu, tergantung jenis dagingnya juga," ucapnya.
Hal senada juga disampaikan pedagang bawang dan tahu di Pasar Senen, Davi. Ia mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar secara tidak langsung sudah membikin nilai tahu nan dijualnya ikut naik di tingkat pabrik.
Ia menjelaskan, kedelai sebagai bahan baku utama tahu tetap mengandalkan impor, sehingga perubahan nilai tukar turut memengaruhi ongkos produksi.
"Harga kedelainya kan naik. Kalau tahu pakai kedelai impor. Jadi bisa jadi lantaran rupiah sama ongkos kirim kedelainya lagi naik. Mungkin rentetannya begitu, ongkos produksi jadi besar, nilai di pasar ikut naik," ujar Davi.
Dalam perihal ini, dia mengatakan nilai tahu di tingkat pabrik sudah naik sekitar Rp 100-200 per potong. Sementara untuk menjaga daya beli masyarakat, dia kudu menahan nilai jual ke konsumen nan secara otomatis mengurangi untung nan bisa didapatkan.
Petani Teriak Amukan Dolar AS Mulai Terasa di Desa
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, mengatakan secara harfiah masyarakat desa memang bertransaksi menggunakan rupiah, bukan dolar. Namun, saat rupiah melemah, akibat penguatan dolar justru semakin terasa dan membebani.
"Ketika rupiah melemah dan memicu inflasi barang-barang pokok serta sarana produksi pertanian, daya beli masyarakat desa langsung merosot tajam. Jadi, meskipun tidak memegang lembaran dolar, kantong masyarakat desa tetap tertekan (dampak) oleh pengaruh domino dari penguatan dolar tersebut," lanjutnya.
Ia menjelaskan akibat pelemahan rupiah sangat signifikan, terutama dari sisi biaya produksi (input pertanian). Meski petani bertransaksi menggunakan rupiah, sebagian besar komponen utama pertanian Indonesia tetap berjuntai pada bahan baku impor.
"Pelemahnya rupiah secara langsung mengerek kenaikan nilai pupuk non-subsidi, bahan aktif pestisida alias obat-obatan, hingga suku cadang mesin pertanian seperti traktor dan mesin giling," ujarnya.
Dalam konteks ini, Henry menyebut nilai pupuk urea nonsubsidi saat ini berada di kisaran Rp 580.000 per sak (50 kg), dari sebelumnya Rp 380.000 per sak alias naik 50% lebih. Bahkan, pupuk merek NPK Mutiara sekarang dibanderol sekitar Rp 800.000 per sak, dari sebelumnya Rp 600.000 per sak.
Lebih lanjut, untuk obat-obatan seperti insektisida, fungisida, dan herbisida, menurutnya sudah naik rata-rata 30%. Sementara itu, onderdil alias suku cadang perangkat pertanian seperti combine harvester, traktor, dan mesin penggiling tercatat naik hingga 40%.
Namun nan menjadi masalah, saat biaya produksi terus merangkak naik di kios-kios pertanian dalam beberapa waktu terakhir, nilai jual komoditas seperti padi alias palawija kerap jatuh saat panen raya alias tertekan oleh rantai pengedaran nan panjang.
"Ketika biaya modal melonjak tinggi, namun nilai jual panen di tingkat petani condong stagnan alias fluktuatif, petani terpaksa mengurangi penggunaan input, misalnya takaran pupuk alias gelombang penyemprotan hama. Hal ini pada akhirnya berpotensi menurunkan produktivitas hasil panen secara nasional," papar Henry.
(igo/fdl)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·