Anies Baswedan Soroti Rupiah hingga Daya Beli Melemah, Minta Pemerintah Jujur ke Rakyat

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Anies Baswedan Soroti Rupiah hingga Daya Beli Melemah, Minta Pemerintah Jujur ke Rakyat Mantan Calon Presiden Anies Baswedan(MI)

MANTAN Gubernur Jakarta, Anies Baswedan mengingatkan pemerintah untuk bersikap terbuka dan jujur dalam menghadapi situasi ekonomi dan geopolitik nan dinilainya semakin berat. Menurutnya, transparansi dan kepastian kebijakan menjadi perihal paling dibutuhkan publik dan pasar di tengah tekanan ekonomi nan terus meningkat.

“Saya mengikuti dengan seksama apa nan sedang terjadi di negeri ini dan terus diterangkan kondisinya dengan baik-baik saja. Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah,” kata Anies seperti dilansir dari akun instagram pribadinya, Rabu (20/5).

Ia juga menyoroti beragam persoalan nan dirasakan masyarakat, mulai dari kenaikan nilai kebutuhan pokok, menyempitnya kesempatan kerja, hingga melemahnya daya beli rumah tangga.

“Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus. Dan ini berakibat pada rencana hidup orang Indonesia. Tantangan di depan tetap panjang,” ujarnya.

Mantan calon presiden 2024 itu menyinggung kondisi dunia nan dinilai semakin tidak menentu. Menurutnya, bentrok geopolitik dan ancaman cuaca ekstrem dapat memperburuk tekanan terhadap masyarakat.

“Geopolitik nan memanas, bentrok membayang di Timur Tengah, dan para intelektual mengingatkan El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan sudah ada di depan mata. Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan. Maka beratnya berlipat,” katanya.

Dalam situasi tersebut, Anies menilai publik dan pelaku pasar memerlukan kepastian arah kebijakan dari pemerintah, bukan sekadar narasi nan menenangkan tanpa dasar nan jelas.

“Dalam situasi seperti ini, nan paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal: kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah nan ditaburi gula-gula,” ucapnya.

Menurut Anies, kepastian hanya dapat lahir dari transparansi dan kejujuran pemerintah dalam menyampaikan kondisi sebenarnya kepada masyarakat.

“Tapi kepastian nan lahir dari transparansi dan kejujuran, dari arah nan jelas, dari pemerintah nan tahu bakal ke mana negeri ini dibawa. Sayangnya, itu nan justru tidak kita dapatkan,” katanya.

Ia juga mengkritik langkah pemerintah dalam menyampaikan info kepada publik. Anies menilai info nan dipublikasikan kerap hanya menampilkan sisi positif, sementara persoalan nan jelek condong ditutupi.

“Data dipilih-pilih, hanya nan baik nan ditampilkan, nan jelek disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng apalagi bercanda. Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membikin pasar dan penanammodal kehilangan kepercayaan.

“Pasar bingung, publik bingung, penanammodal menahan diri apalagi sebagian kabur,” kata Anies.

Lebih jauh, Anies menyinggung soal keteladanan pemerintah dalam pengelolaan anggaran di tengah kondisi ekonomi masyarakat nan sulit.

“Di saat rakyat diminta berhemat, mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal nan bukan prioritas. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan,” tuturnya.

Anies mengatakan beragam peringatan mengenai kondisi ekonomi Indonesia telah datang dari banyak pihak, baik dari ahli ekonomi dalam negeri maupun lembaga internasional.

“Peringatan sudah datang dari mana-mana. Dari ahli ekonomi dalam negeri, dari lembaga finansial internasional, dari media-media nasional dan internasional nan mengawasi Indonesia. Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat nan sama,” katanya.

Karena itu, dia meminta pemerintah berakhir menutupi persoalan dan mulai membuka kondisi nan sebenarnya kepada publik.

“Berhentilah memberi obat tidur kepada publik. Buka info apa adanya. Sampaikan masalah dengan jujur. Berikan arah kebijakan nan jelas dan konsisten,” ujar Anies.

Ia pun membujuk masyarakat bersiap menghadapi tantangan ke depan nan menurutnya tetap berat, baik dari sisi ekonomi maupun ancaman cuaca ekstrem.

“Tentu kita tetap kudu optimistis bahwa kita bakal bisa melewati itu semua. Asal kita melangkah dengan mata terbuka, bukan dengan ilusi nan dibuat-buat. Kita pasti bisa. Tapi syaratnya satu, serius. Mari kita serius mengurus bangsa ini,” pungkasnya. (Dev/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia