Harga minyak ambruk 6 persen ke level terendah dalam dua minggu terakhir, Senin (25/5).
Mengutip Reuters, anjloknya nilai minyak ini seiring meningkatnya optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran bergerak lebih dekat ke kesepakatan damai, meskipun mereka tetap berbeda mengenai isu-isu utama, seperti blokade di Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun USD 5,85, alias 5,7 persen, menjadi USD 97,69 per barel pada pukul 03.43 GMT.
Sementara untuk minyak West Texas Intermediate AS berada di USD 90,85 per barel, turun USD 5,75, alias 6 persen.
"Kedua perjanjian menyentuh level terendah mereka sejak 7 Mei di awal sesi," tulis Reuters seperti nan dikutip kumparan.
Pada hari Sabtu lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dan Iran telah 'sebagian besar merundingkan' pemahaman tentang kesepakatan tenteram nan bakal membuka kembali Selat Hormuz.
"Terlepas dari semua peringatan dan akibat nan tersisa pada kesepakatan tenteram dan Selat Hormuz, sekarang ada titik terang di ujung terowongan, nan bakal membawa kelegaan nilai minyak jangka pendek," kata analis MST Marquee Saul Kavonic.
Namun, kedua belah pihak tetap berbeda mengenai beberapa masalah sulit, dengan Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa dia telah memberi tahu para perwakilannya untuk tidak terburu-buru dalam kesepakatan apa pun dengan Iran.
"Kita pernah berada di tahap ini sebelumnya, hanya untuk memandang pembicaraan terhenti. Oleh lantaran itu, pasar kemungkinan bakal lebih berhati-hati tentang reaksi berlebihan," kata Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING.
Analis memperkirakan kembalinya aliran minyak normal melalui selat tersebut bakal menyantap waktu berbulan-bulan, sementara akomodasi minyak dan gas nan rusak diperbaiki.
"Semakin lama krisis membentang, semakin dapat diperdebatkan apakah para pemimpin bumi betul-betul menginginkan akhir nan sigap dari gangguan ini," kata analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva.
Perusahaan daya AS menanggapi kenaikan nilai daya lokal dengan menambah rig minyak dan gas alam selama lima minggu berturut-turut, untuk pertama kalinya sejak Februari 2025.
Jumlah rig, sebuah parameter awal output masa depan, naik tujuh menjadi 558 dalam minggu hingga 22 Mei, tertinggi sejak Juni 2025. Meski begitu, Baker Hughes mengatakan jumlah totalnya tetap turun delapan rig, alias 1% di bawah waktu nan sama tahun lalu.
"Indikator momentum menunjukkan pasar sedang mencoba untuk stabil setelah tindakan jual garang minggu lalu, tetapi kepercayaan tetap lemah," kata Sachdeva.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·