Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Teheran menuduh Washington melanggar gencatan senjata lewat serangan militer di sekitar Selat Hormuz. Tuduhan itu muncul ketika kedua negara sebenarnya tengah berupaya menyusun kesepakatan awal untuk mengakhiri perang nan telah berjalan lebih dari tiga bulan.
Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa (27/5/2026) menyatakan serangan AS di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, merupakan "pelanggaran besar" terhadap gencatan senjata nan rentan dan telah bertindak nyaris tujuh pekan.
Media Iran sebelumnya melaporkan bunyi ledakan terdengar di wilayah tersebut pada Selasa awal hari.
Di sisi lain, pemerintah AS memihak operasi militernya dengan menyebut serangan itu berkarakter defensif. Washington menyatakan sasaran nan diserang adalah letak rudal Iran dan kapal-kapal nan diduga tengah mencoba menanam ranjau laut di sekitar Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi untuk menghentikan bentrok mungkin tetap memerlukan waktu beberapa hari lagi. Rubio menyebut Selat Hormuz kudu kembali dibuka apapun caranya.
"Selat Hormuz kudu terbuka, dengan satu langkah alias langkah lainnya," ujar Rubio kepada wartawan di pesawatnya saat melakukan kunjungan ke India, dilansir Reuters.
Konflik Iran-AS sendiri pecah setelah serangan campuran AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Perang tersebut memicu guncangan pasokan minyak dunia nan belum pernah terjadi sebelumnya dan mendorong lonjakan nilai bahan bakar, pupuk, hingga pangan dunia.
Selama perang berlangsung, lampau lintas kapal di Selat Hormuz ambruk drastis. Padahal jalur sempit tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Garda Revolusi Iran mengatakan sebanyak 25 kapal tanker minyak dan kapal lainnya telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dengan izin dari Iran.
Di tengah situasi itu, nilai minyak mentah Brent bumi kembali melonjak sekitar 3,5% pada Selasa hingga mendekati US$100 per barel.
Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa mereka tetap mempunyai kewenangan untuk membalas serangan AS terbaru.
Pasukan elite Iran itu mengeklaim unit pertahanan udara mereka sukses menembak jatuh sebuah drone AS serta menembaki drone lain dan jet tempur nan disebut memasuki wilayah udara Iran di area Teluk.
Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kembali melontarkan retorika keras terhadap AS dan Israel.
Dalam pesan nan diunggah di kanal Telegram resminya bertepatan dengan musim ibadah haji tahunan, Mojtaba mengatakan:
"Mulai sekarang, semboyan 'Kematian untuk Amerika' dan 'Kematian untuk Israel' bakal menjadi semboyan bangsa Islam dan rakyat tertindas dunia."
Presiden AS Donald Trump sebelumnya beberapa kali menggunakan semboyan tersebut sebagai argumen untuk membenarkan tindakan militer terhadap Iran.
Di tengah ketegangan nan terus membara, pejabat Iran dan AS mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung mengenai nota kesepahaman awal nan diharapkan menjadi pintu menuju perundingan tenteram lebih luas.
Media Iran melaporkan negosiator utama Teheran, Mohammad Baqer Qalibaf, baru kembali dari Qatar setelah meminta pencairan sekitar US$24 miliar biaya Iran nan dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan awal.
Kantor buletin Fars menyebut pencairan biaya tersebut sekarang menjadi halangan terakhir dalam negosiasi.
Iran juga meminta penghentian bentrok di Lebanon, di mana gencatan senjata sejak pertengahan April kandas menghentikan bentrok antara Israel dan golongan Hizbullah nan didukung Iran.
Di sisi lain Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa mengatakan negaranya justru memperluas operasi militer di Lebanon.
"Israel memperdalam operasinya di Lebanon," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan, sembari menambahkan bahwa pasukannya sekarang bergerak dengan "kekuatan besar di lapangan".
Menurut sumber-sumber Iran, kesepakatan awal nantinya bakal mencakup penghentian permusuhan di semua front perang, pemulihan lampau lintas kapal di Selat Hormuz selama 30 hari, dan kemungkinan support finansial tertentu bagi Iran.
Isu-isu nan lebih rumit, termasuk program nuklir Iran, bakal dinegosiasikan dalam tahap kedua.
Reuters sebelumnya melaporkan Iran mulai mengizinkan sebagian kapal melintasi Selat Hormuz, dengan prioritas diberikan kepada kapal-kapal nan mengenai dengan negara-negara sahabat Teheran.
Trump sendiri menegaskan tujuan utamanya dalam perang ini adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir melalui stok uranium nan diperkaya tingkat tinggi. Namun Teheran terus membantah mempunyai rencana membikin peledak nuklir.
Di saat bersamaan, Trump juga memanfaatkan krisis ini untuk mendorong lebih banyak negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, berasosiasi dalam Abraham Accords nan bermaksud menormalisasi hubungan dengan Israel.
Arab Saudi menolak langkah tersebut tanpa adanya peta jalan jelas menuju pembentukan negara Palestina.
Adapun perang nan meluas di area telah menewaskan ribuan orang, terutama di Lebanon dan Iran. Sementara di dalam negeri Iran sendiri, golongan pemantau internet Netblocks melaporkan sebagian konektivitas internet mulai pulih setelah pemadaman nyaris 90 hari.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·