Stadion kandang Leicester City, Stadion King Power.(lcfc.com)
AWAN mendung kian pekat menyelimuti Stadion King Power. Harapan Leicester City untuk lepas dari jerat hukuman finansial resmi kandas setelah majelis banding independen menolak permohonan keberatan nan diajukan klub berjuluk The Foxes tersebut.
Keputusan ini mengonfirmasi bahwa Leicester tetap kudu menerima balasan pengurangan enam poin pada musim ini. Sanksi tersebut merupakan buntut dari pelanggaran patokan finansial Profitability and Sustainability Rules (PSR) alias Aturan Keuntungan dan Stabilitas nan terjadi pada periode sebelumnya.
Pihak Liga Premier Inggris, nan mengawal proses investigasi sejak awal, telah memberikan pernyataan resmi mengenai ketetapan norma ini.
"Keputusan komisi independen nan merekomendasikan pengurangan enam poin terhadap Leicester City Football Club musim ini telah dijatuhkan oleh majelis banding independen," tulis pernyataan resmi Liga Premier Inggris pada Rabu (8/4).
Kronologi Pelanggaran dan Sengketa Angka
Kasus ini bermulai pada Mei 2025, saat Leicester didakwa melanggar patokan PSR mengenai laporan finansial musim 2023/24. Meski saat itu mereka tetap berkompetisi di kasta tertinggi, penanganan kasus dialihkan ke English Football League (EFL) setelah tim terdegradasi ke Divisi Championship.
Dalam proses persidangan, sempat terjadi perdebatan mengenai lama periode penilaian. Manajemen Leicester berdasar bahwa kalkulasi semestinya mencakup 36 bulan, bukan 37 bulan, nan disebabkan oleh keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Namun, meski komisi akhirnya menggunakan standar 36 bulan, Leicester tetap terbukti melampaui pemisah pengeluaran nan diizinkan.
Berikut adalah rincian info finansial nan menjadi dasar hukuman tersebut:
| Batas Pengeluaran EFL | 83 Juta Pound Sterling |
| Pelampauan Batas (Excess) | 20,8 Juta Pound Sterling |
| Sanksi Final | Pengurangan 6 Poin |
| Status Banding | Ditolak (Keputusan Tetap) |
Ancaman Degradasi Beruntun
Dampak dari pengurangan poin ini terasa sangat destruktif bagi posisi Leicester di klasemen. Sempat berada di ranking ke-17, tim didikan pembimbing interim Gary Rowett ini langsung terjun bebas ke posisi ke-20. Kondisi psikologis skuad tampaknya ikut terganggu; Leicester tercatat hanya bisa memetik satu kemenangan dalam 12 pertandingan terakhir di seluruh kompetisi.
Saat ini, Leicester City terjerembap di area degradasi dan terpaut satu poin dari area aman. Dengan hanya menyisakan lima pertandingan sisa, nasib juara Liga Inggris 2016 ini berada di ujung tanduk. Jika kandas bangkit, mereka terancam mengalami degradasi dua musim berturut-turut.
Menanggapi situasi susah ini, manajemen klub menyatakan bakal menghentikan segala upaya norma dan memilih konsentrasi pada perjuangan di lapangan hijau.
"Dengan kasus ini nan telah berhujung dan lima pertandingan tersisa, seluruh komponen klub sepenuhnya konsentrasi pada laga-laga ke depan. Kami tahu ini periode menantang dan berterima kasih atas support suporter," tulis pernyataan resmi klub. (Ant/Z-1)
Berdasarkan patokan PSR, klub Liga Premier dilarang merugi lebih dari 105 juta pound dalam tiga tahun, dengan penyesuaian pemisah sebesar 22 juta pound untuk setiap musim nan dihabiskan di bagian Championship.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·