Ilustrasi(Dok Istimewa)
PIMPINAN Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Mokhamad Mahdum, memberikan pesan kuat kepada generasi muda untuk berakhir berpikir sebagai penerima faedah (mustahik) dan mulai berkeinginan menjadi pemberi amal (muzaki). Ajakan ini dijelaskan saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Zakat berjudul "Peran Generasi Muda dalam Membangun Ekosistem Zakat Berkelanjutan" di UIN Sunan Kudus, Jawa Tengah.
Mahdum menantang para pemuda nan datang untuk memilih peran strategis mereka dalam ekosistem filantropi Islam. Ia menegaskan, masa depan ekonomi syariah berjuntai pada pilihan generasi muda saat ini, apakah bakal terus menjadi objek alias berani menjadi subjek perubahan.
"Peran mahasiswa anak muda itu hanya dua. Mau menjadi mustahik alias menjadi muzaki? Masa mau jadi mustahik? Belum apa-apa sudah mustahik. Jadi hidup itu memilih, mau jadi mustahik alias muzaki," ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Rabu (8/4).
Dalam kesempatan tersebut, Mahdum juga berbagi pengalaman spiritualnya mengenai kekuatan angan nan visioner. Ia mengisahkan gimana orientasi doanya berubah dari sekadar nomor nominal menjadi sebuah kebermanfaatan nan meluas bagi bangsa.
"Kalau dulu doanya, 'Ya Allah saya mau sekali amal tahun ini 1 miliar', jika sekarang tak lobi: 'Ya Allah jadikan saya pembayar amal terbesar di Indonesia'. Beda angan saya, kantong Allah kan tidak terbatas," tuturnya.
Lebih lanjut, dia menyoroti, tugas mahasiswa bukan hanya sebatas berdonasi, melainkan menjadi pemasok literasi bagi masyarakat nan tetap awam tentang tanggungjawab zakat. Mahdum menilai, ketimpangan info tetap menjadi hambatan utama kenapa banyak masyarakat bisa nan belum menunaikan zakat.
"Literasi itu sangat penting. Kita salah, berdosa jika seandainya ada orang nan semestinya sudah kena tanggungjawab amal tetapi enggak tahu. Tugas mahasiswa itu paling tidak ikut menjadi penyambung lidah masyarakat agar mengerti betul apa itu zakat, bedanya infak, dan sedekah," tegasnya.
Mahdum mengungkapkan info menarik mengenai tren infak digital nan mencapai Rp9 hingga Rp10 miliar per bulan, nan didominasi oleh generasi muda. Meskipun motivasi mereka beragam, seperti angan lulus skripsi hingga mendapat pekerjaan, Mahdum memandang perihal ini sebagai modal sosial nan besar. Ia berharap, kepedulian tersebut terus tumbuh hingga generasi muda betul-betul menjadi motor penggerak utama ekonomi syariah di masa depan.
Sementara itu, pembicara lain dari LAZISNU Jawa Tengah, Aan Zainul Anwar, membagikan perspektif mendalam mengenai pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan zakat. Ia menekankan, sistem amil nan dikelola secara kelembagaan bakal memberikan akibat nan jauh lebih luar biasa dibandingkan pengelolaan tradisional nan tidak terorganisir.
Aan juga membedah hasil riset disertasinya mengenai keberhasilan pengelolaan amal di Desa Jatisono, Demak, nan sekarang menjadi percontohan nasional. Di desa tersebut, masyarakatnya alim menunaikan amal pertanian, nan diperkirakan bisa mencapai nomor Rp300 juta dari satu entitas saja per tahun.
"Apa kenapa bisa seperti itu? Karena ada kesadaran, ada kekompakan, ada profesionalisme, ekosistem di sananya sudah jadi," katanya.
Pola pengelolaan di Jatisono juga sukses menyejahterakan para penggerak kepercayaan di desa tersebut, sehingga tidak ada lagi pembimbing ngaji nan hidup dalam kekurangan. Berbeda dengan wilayah lain nan mungkin hanya memberikan support ala kadarnya saat Ramadan, di desa ini pembimbing ngaji mendapatkan insentif bulanan nan layak serta tunjangan pangan secara rutin. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·