Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid(ANTARA)
BADAN Amil Zakat Nasional (Baznas) RI berbareng Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terus memperkuat sinergi dalam upaya mengoptimalkan potensi zakat nasional Rp327 triliun serta mendorong integrasi amal dalam perencanaan pembangunan nasional.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengatakan, optimasi potensi amal menjadi salah satu petunjuk Presiden nan perlu segera diwujudkan. Ia menyebutkan, potensi amal nasional diperkirakan mencapai Rp327 triliun.
"Terdapat beberapa pengarahan Presiden bagi kami (pengelola zakat), di antara optimasi potensi zakat, integrasi info dan program Baznas dengan beragam pihak, penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) hingga level desa dan kecamatan, serta digitalisasi pengelolaan zakat," jelas Sodik.
Lebih lanjut, Sodik menyampaikan, ke depan juga bakal ada rencana revisi Undang-Undang Zakat untuk memperkuat integrasi kebijakan. Ia turut mengapresiasi Bappenas nan telah menetapkan amal sebagai bagian dari perencanaan pembangunan nasional.
“Zakat sudah mulai menjadi bagian dari mainstream ekonomi nasional. Karena itu diperlukan koordinasi dan integrasi nan lebih kuat dengan beragam pihak lintas sektor, termasuk dengan Kementerian PPN/Bappenas dan BPS, khususnya dalam perihal data, program, dan kebijakan, termasuk rencana revisi Undang-Undang Zakat,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyatakan siap mendukung upaya Baznas dalam meningkatkan penghimpunan amal nasional, dengan sasaran pertumbuhan hingga 100 persen.
Ia mengungkapkan, potensi amal di Indonesia diperkirakan mencapai Rp327 triliun, namun realisasinya baru sekitar 10 persen. “Dengan demikian, ada kesempatan untuk meningkatkan capaian menjadi 20 hingga 30 persen. Bahkan, kenaikan dari 10 persen ke 20 persen saja sudah berfaedah peningkatan sebesar 100 persen,” ujarnya.
Ia menilai amal mempunyai peran krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perlu langkah sistematis. “Pendekatan tidak hanya dari sisi syariat, tetapi juga tata kelola, teknologi, dan kebijakan, termasuk program pemberdayaan dan regulasi,” ujarnya.
Rachmat juga mendorong pemetaan asnaf mustahik berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai referensi penyaluran amal secara nasional agar lebih tepat sasaran.
"Pengembangan program kolaboratif ZISWAF Indonesia Emas juga bakal terus diperkuat dengan konsentrasi pada sektor pendidikan, kesehatan, perumahan, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan sosial," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan kesiapan pihaknya untuk bersinergi dalam penguatan integrasi info dan pemetaan potensi amal secara lebih komprehensif.
“Kami siap menindaklanjuti. Potensi amal perlu dihitung lebih mendalam dan granular, misalnya berasas jumlah masyarakat Muslim dan golongan wajib zakat,” ujar Amalia.
Ia menambahkan, BPS berbareng Baznas bakal melakukan pembaruan kalkulasi potensi amal melalui survei alias sensus pada 2026 guna menghasilkan info nan lebih akurat.
“Ke depan, kami juga dapat menyediakan info berbasis desil untuk memetakan mustahik, sehingga penyaluran amal lebih tepat sasaran,” katanya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·