JAKARTA — Buku De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten karya Michel Maas mengangkat kembali perdebatan mengenai warisan kolonial Belanda di Indonesia, bukan hanya dalam corak luka bentuk dan ekonomi, tetapi juga mentalitas kolonial nan dinilai tetap memperkuat hingga sekarang.
Hal itu mengemuka dalam Forum Praksis seri ke-20 bertema Challenging Today’s Dutch Romantic Colonial Image of Indonesia di Jakarta, Jumat (22/5).
Dalam pemaparannya, Maas mengatakan hingga sekarang tetap banyak masyarakat Belanda nan memandang masa Hindia Belanda sebagai periode nan romantis, tertib, damai, dan menyenangkan.
Menurutnya, langkah pandang itu membikin beragam corak kekerasan dan ketidakadilan selama kolonialisme kerap diabaikan. Ia mencontohkan gimana visitor Belanda nan datang ke Indonesia sering lebih tertarik mengunjungi situs-situs peninggalan kolonial seperti Kota Tua Jakarta, jembatan, dan gedung era Belanda lainnya untuk menemukan kembali nostalgia masa lalu.
Maas menilai sistem pemerintahan dan ketertiban nan dibangun Belanda di Nusantara pada masa kolonial sejatinya dibuat demi melayani kepentingan Belanda sendiri. Menurutnya, setiap corak perlawanan masyarakat pribumi ditumpas secara keras, sementara rakyat Hindia Belanda tetap hidup miskin dan menderita meski kekayaan kolonial terus mengalir ke Belanda.
Lebih jauh, Maas mengutip konsep “germs of rot” alias “kuman pembusukan” dari Frantz Fanon untuk menjelaskan akibat jangka panjang kolonialisme.
Menurutnya, setelah Indonesia merdeka pun, sistem birokrasi, hukum, dan ekonomi nan diwariskan kolonial tetap condong menempatkan rakyat dalam posisi lemah demi kepentingan elit politik dan ekonomi. Jika dulu elit tersebut adalah orang Belanda, sekarang nan menikmati untung adalah sesama elite Indonesia sendiri.
Menanggapi pemaparan tersebut, sejarawan Inggris Peter Carey mengatakan kitab De Gelogen Kolonie krusial lantaran mengulas relasi historis nan kompleks antara Belanda dan Indonesia.
Menurut Carey, istilah “kebohongan” dalam titel kitab itu merujuk pada gambaran romantis tentang Hindia Belanda nan sebenarnya tidak pernah betul-betul ada. “Yang ada adalah sebuah sistem kolonialisme nan eksploitatif dan kejam,” ujar Carey.
Carey kemudian mencontohkan sistem Tanam Paksa nan menurutnya menyerupai perbudakan modern lantaran menyerap tenaga dan sumber daya alam Hindia Belanda secara besar-besaran demi untung Belanda. Ia juga menyinggung beragam kekerasan sadis nan dilakukan pasukan Belanda pada masa “Bersiap”, ketika Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Menurut Carey, kolonialisme Belanda juga meninggalkan apa nan dia sebut sebagai “sihir kolonial”, ialah mentalitas nan tetap memengaruhi langkah berpikir dan sistem kekuasaan hingga sekarang. Hal itu tampak, misalnya, dalam kecenderungan sebagian pejabat publik mengorbankan kepentingan rakyat demi kepentingan sendiri, serta pemanfaatan sumber daya alam atas nama kemakmuran berbareng nan pada akhirnya hanya menguntungkan golongan elite tertentu.
Ia menilai akibat mental kolonial tersebut ikut membikin bangsa Indonesia kurang percaya diri di panggung global, padahal Indonesia pernah memberikan inspirasi besar bagi bumi melalui perjuangan Pangeran Diponegoro, kiprah Nyai Ageng Serang, kisah Panji, hingga Konferensi Asia-Afrika. “Sumbangan-sumbangan seperti itu sekarang sedang meredup dan perlu dikobarkan kembali,” kata Carey.
Forum tersebut juga dihadiri mantan Menteri Pendidikan RI Wardiman Djojonegoro. Ia menilai kitab De Gelogen Kolonie krusial terutama bagi masyarakat Belanda nan tetap menyimpan langkah pandang kolonial terhadap Indonesia. Menurut Wardiman, Indonesia saat ini bukan lagi objek nostalgia kolonial, melainkan negara berdaulat nan mempunyai dinamika dan kompleksitasnya sendiri.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·