Beef tallow kembali terkenal dan disebut lemak sehat.(Dok. Freepik)
BEEF tallow, lemak masak tradisional dari lemak sapi, kembali ramai dibicarakan. Setelah lama dijauhi lantaran dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, bahan ini sekarang justru masuk tren makanan 2026 dan gencar dipromosikan di media sosial.
Sorotan terhadap beef tallow makin besar setelah pedoman diet federal terbaru di Amerika Serikat memasukkannya berbareng minyak oliva dan mentega dalam kategori lemak sehat. Langkah itu memicu perdebatan di kalangan mahir gizi dan dokter.
Beef tallow adalah lemak putih hasil pemanasan jaringan lemak sapi. Bahan ini mempunyai titik asap tinggi dan berbentuk padat pada suhu ruang, sehingga sejak lama digunakan untuk menggoreng dan memanggang.
Tinggi Lemak Jenuh
Di kembali popularitasnya, banyak intelektual mengingatkan bahwa beef tallow mengandung lemak jenuh tinggi, nan selama puluhan tahun dikaitkan dengan peningkatan akibat penyakit jantung.
Profesor nutrisi dari Tufts University, Alice Lichtenstein, menilai klaim beef tallow sebagai lemak sehat belum ditopang bukti ilmiah nan kuat.
“Tanpa bukti nan kuat, sangat susah untuk merekomendasikannya,” ujarnya, dikutip dari AARP, Rabu (8/4).
Pandangan senada disampaikan Christopher Gardner dari Stanford Prevention Research Center. Menurut dia, penelitian sejak 1950-an telah menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL alias kolesterol jahat, nan berangkaian erat dengan penyakit jantung.
Masih Kalah Sehat dari Minyak Nabati
Sejumlah studi menunjukkan beef tallow tetap kalah sehat dibanding minyak nabati. Dalam kajian besar nan membandingkan beragam jenis lemak, beef tallow memang dinilai sedikit lebih baik daripada mentega, tetapi tetap memberi akibat lebih jelek pada kolesterol dibanding minyak berbasis tumbuhan seperti kanola dan kembang matahari.
Studi jangka panjang nan dimuat di JAMA Internal Medicine pada 2025 juga menemukan bahwa konsumsi minyak nabati berangkaian dengan akibat kematian nan lebih rendah. Bahkan, mengganti satu sendok makan mentega dengan minyak nabati setiap hari disebut dapat menurunkan akibat kematian awal hingga 17 persen.
Peneliti juga menemukan bahwa mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dapat membantu memperbaiki kadar kolesterol sekaligus menurunkan akibat penyakit jantung dan stroke.
Belakangan, muncul golongan nan mempertanyakan ancaman lemak jenuh. Mereka beranggapan lemak seperti beef tallow lebih baik daripada minyak nabati olahan alias seed oils, nan dituduh memicu peradangan.
Namun pandangan itu ditolak banyak ahli. American Heart Association menegaskan minyak nabati tetap menjadi pilihan nan lebih sehat, sementara asupan lemak jenuh sebaiknya dibatasi.
Menurut para ahli, kebingungan ini muncul lantaran sebagian studi terbaru tidak menemukan hubungan langsung antara lemak jenuh dan penyakit jantung. Padahal, aspek nan kerap diabaikan adalah makanan penggantinya.
Jika lemak jenuh diganti dengan makanan olahan tinggi gula, faedah kesehatan memang tidak tampak. Namun, jika diganti dengan lemak nabati nan lebih sehat, hasilnya justru menunjukkan perbaikan kesehatan nan signifikan.
Batas Aman Konsumsi
Pedoman diet tetap menyarankan agar konsumsi lemak jenuh dibatasi kurang dari 10 persen dari total kalori harian. Dalam pola makan 2.000 kalori, pemisah itu setara dengan maksimal 20 gram lemak jenuh per hari.
Sebagai gambaran, satu sendok makan beef tallow mengandung sekitar 6 gram lemak jenuh, alias nyaris sepertiga dari pemisah harian tersebut. Artinya, penggunaan rutin beef tallow dalam masakan berisiko membikin seseorang melampaui pemisah nan dianjurkan.
Para mahir menilai bakal susah menjaga asupan tetap kondusif jika beef tallow dikonsumsi berbarengan dengan sumber lemak jenuh lain, seperti daging merah dan produk susu penuh lemak.
Pada akhirnya, para master menekankan bahwa pola makan secara keseluruhan jauh lebih krusial daripada satu bahan tertentu. Mereka menyarankan masyarakat mengurangi makanan ultra-proses dan menerapkan pola makan sehat seperti diet Mediterania, nan kaya buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Meski begitu, penggunaan beef tallow sesekali tetap dinilai wajar, terutama jika membantu meningkatkan konsumsi sayuran. Namun untuk pilihan nan lebih kondusif bagi kesehatan jantung, minyak nabati seperti minyak oliva tetap direkomendasikan sebagai opsi utama. (AARP/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·