Belajar dari Lalat, Sistem AI Masa Depan Bakal Lebih Cepat dan Hemat Daya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Belajar dari Lalat, Sistem AI Masa Depan Bakal Lebih Cepat dan Hemat Daya Ilmuwan Universitas Sheffield temukan sistem "peningkatan turbo" pada lalat nan dapat memangkas penggunaan daya AI.(Dok. TCD)

PARA peneliti dari Universitas Sheffield sukses mengungkap sistem "jalan pintas" pada sistem penglihatan lalat nan berpotensi merevolusi efisiensi daya pada teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan robotika. Temuan ini menunjukkan bahwa serangga tidak hanya menyerap info visual secara pasif, tetapi secara aktif mempertajam persepsi melalui aktivitas tubuh dan mata nan sangat cepat.

Studi nan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini mengidentifikasi adanya sistem berjulukan "lompatan gelombang tinggi" alias peningkatan turbo.

Saat lalat melakukan aktivitas tiba-tiba, sistem visual mereka beranjak ke mode nan lebih cepat, mengirimkan info ke otak hingga tiga kali lipat dari kecepatan normal dalam skala milidetik.

Profesor Mikko Juusola, penulis senior penelitian tersebut, menyatakan bahwa temuan ini mengubah paradigma lama tentang pemrosesan info di otak.

"Karya ini menunjukkan langkah berpikir nan baru secara esensial tentang gimana otak menghitung informasi, di mana kecepatan dan efisiensi muncul dari hubungan aktif dengan lingkungan," ujarnya.

Implikasi dari penelitian ini sangat besar bagi pengembangan kendaraan otonom dan robotika nan selama ini sangat berjuntai pada daya komputasi besar untuk menafsirkan lingkungan. Dengan meniru cara kerja otak lalat, para insinyur dapat merancang mesin nan hanya memproses info paling relevan pada waktu nan tepat, sehingga memangkas penggunaan daya secara signifikan.

Dr. Jouni Takalo, developer model utama dalam tim tersebut, menambahkan bahwa koordinasi sensor mini pada lalat memungkinkan pengalihan perhatian secara instan ke area nan paling penting. Hal ini menjadi inspirasi bagi pengembangan sistem penglihatan buatan dan rekayasa neuromorfik nan lebih adaptif dan rendah latensi.

Penelitian ini menegaskan bahwa kepintaran masa depan mungkin tidak selalu memerlukan komputer nan lebih besar, melainkan kreasi nan lebih efisien dengan meniru efektivitas alam dalam mengolah info secara presisi. (TCD/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia