Benarkah Obat Tetes Bisa Sembuhkan Katarak?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Benarkah Obat Tetes Bisa Sembuhkan Katarak? Ilustrasi(Freepik)

MASIH banyak persepsi keliru di tengah masyarakat mengenai penanganan katarak. Salah satu nan paling umum adalah dugaan bahwa kekeruhan pada lensa mata tersebut bisa disembuhkan hanya dengan penggunaan obat tetes mata.

Dokter ahli mata subspesialis katarak dan bedah refraksi, dr. Amir Shidik, Sp. M, Subsp. K.B.R, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada obat tetes nan bisa menghilangkan katarak secara total. Menurutnya, obat tetes hanya berfaedah sebagai pendukung, bukan solusi utama.

“Enggak ada obat tetes nan efektif menghilangkan katarak, paling hanya menghalang progresivitasnya. Operasi adalah satu-satunya jalan,” ujar Amir dalam sebuah obrolan kesehatan di Jakarta, Rabu (8/4).

Memahami Faktor Risiko Katarak

Katarak merupakan kondisi di mana lensa mata menjadi keruh, sehingga menghalangi sinar masuk ke retina. dr. Amir menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh beragam faktor, mulai dari proses alami penuaan hingga style hidup nan tidak sehat.

Berikut adalah rincian aspek akibat nan dapat memicu munculnya katarak:

Kategori Faktor Detail Risiko
Fisik & Usia Usia lanjut, paparan sinar ultraviolet (UV).
Riwayat Medis Mata Trauma mata, riwayat operasi mata sebelumnya, peradangan mata (Uveitis).
Kesehatan Umum Diabetes, obesitas, penggunaan obat steroid jangka panjang.
Gaya Hidup Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.

Transformasi Operasi: Dulu vs Sekarang

Kabar baiknya, katarak adalah kondisi nan dapat diperbaiki sepenuhnya. Melalui tindakan operasi, lensa mata nan keruh bakal diangkat dan diganti dengan lensa buatan nan jernih. Amir nan merupakan lulusan Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa teknologi kedokteran telah membikin prosedur ini jauh lebih nyaman bagi pasien.

Dahulu, operasi katarak memerlukan sayatan lebar hingga 15 mm dan banyak jahitan. Namun kini, teknik modern memungkinkan sayatan nan sangat mini dan presisi, sehingga proses pemulihan jauh lebih cepat.

“Operasi sekarang cepat, hanya 10-15 menit. Biusnya hanya ditetes, enggak perlu dijahit, dan mata bisa langsung dibuka,” jelasnya.

Melawan Mitos dan Dampak Psikososial

Selain hambatan medis, Amir menyoroti halangan psikologis dan mitos nan berkembang di masyarakat. Salah satu mitos nan paling ekstrem adalah dugaan bahwa bola mata kudu dicopot dan dibersihkan saat operasi. Ia menegaskan perihal tersebut sama sekali tidak benar.

Ketakutan lain nan sering muncul berangkaian dengan ibadah. Banyak pasien cemas tidak bisa melakukan sujud alias salat setelah operasi. Padahal, dengan penglihatan nan kembali jernih, kualitas ibadah justru bakal meningkat.

Lebih dari sekadar kegunaan penglihatan, operasi katarak memberikan akibat sosial nan signifikan bagi pasien. “Pasien katarak sering terlihat termenung alias tatapan kosong lantaran enggak ada nan bisa dilihat. Setelah operasi, ekspresi mukanya berubah, jadi lebih sering senyum dan berinteraksi,” pungkas Amir.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia