Berkaca dari Kasus Amsal Sitepu: Industri Kreatif Indonesia Butuh Sistem, Bukan Sekadar Hobi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Industri Kreatif Indonesia Butuh Sistem, Bukan Sekadar Hobi Videografer Amsal Sitepu (tengah)(ANTARA/Yudi Manar)

INDUSTRI kreatif Indonesia sering kali dipandang sebagai sektor nan penuh dengan talenta dan buahpikiran cemerlang. Namun, di kembali gemerlap produktivitas tersebut, tersimpan tantangan besar nan menghambatnya menjadi pilar utama ekonomi nasional. Serial entrepreneur dan strategic architect, Renaldy Pujiansyah, menilai bahwa masalah mendasar industri ini terletak pada ketiadaan sistem nan kokoh.

Renaldy, nan mempunyai pengalaman luas dalam membangun upaya lintas sektor mulai dari media hingga pengedaran digital, memandang bahwa potensi besar Indonesia belum terkonversi secara maksimal. Menurutnya, banyak pelaku industri nan tetap melangkah tanpa struktur nan jelas, sehingga rentan terhadap beragam hambatan operasional maupun sosial.

Refleksi dari Polemik Publik

Fenomena kelemahan sistem ini, menurut Renaldy, kembali tercermin dalam beragam kasus nan belakangan ramai diperbincangkan publik, termasuk nan melibatkan sosok Amsal Sitepu. Baginya, kasus-kasus semacam itu bukan sekadar persoalan individu, melainkan sirine bagi ekosistem industri kreatif secara keseluruhan.

“Masalahnya bukan di orangnya, tapi di sistem nan belum terbentuk. Setiap kali ada kasus, publik konsentrasi ke siapa nan salah. Padahal jika dilihat lebih dalam, ini masalah sistem nan belum matang,” tegas laki-laki nan berkawan disapa Renald ini dalam sebuah obrolan baru-baru ini.

MI/HO--Serial entrepreneur dan strategic architect, Renaldy Pujiansyah

Ia mengidentifikasi tiga akibat utama nan menghantui pelaku industri imajinatif akibat ketiadaan struktur nan jelas:

Risiko Tanpa Sistem Dampak pada Industri
Miskomunikasi Ketidakjelasan alur kerja dan koordinasi antar pihak.
Konflik Kepentingan Tumpang tindih peran nan memicu sengketa internal.
Kesalahan Ekspektasi Kegagalan dalam mengelola persepsi dan akibat di mata publik.

Kreativitas Bukan Sekadar Ekspresi

Renaldy menekankan adanya kesalahan esensial dalam memposisikan industri kreatif. Selama ini, produktivitas tetap sering diperlakukan sebatas ekspresi alias hobi, bukan sebagai sebuah sistem industri nan profesional. Akibatnya, karya sering kali tidak terdistribusi maksimal, narasi tidak konsisten, dan monetisasi tidak berkelanjutan.

“Kreativitas itu tidak punya ceiling (langit-langit). nan membatasi bukan idenya, tapi gimana kita mengelolanya,” ujarnya. Ia membandingkan dengan industri komoditas nan mempunyai nilai relatif tetap namun bisa menopang ekonomi. Menurutnya, industri imajinatif nan nilainya tidak terbatas semestinya mempunyai potensi jauh lebih besar jika didukung sistem pengedaran dan monetisasi nan tepat.

Menuju Ekspor Kreatif Global

Ke depan, Renaldy memandang kesempatan besar bagi Indonesia untuk masuk ke fase ekspor kreatif. Dalam fase ini, Indonesia tidak hanya mengirimkan peralatan bentuk ke pasar global, tetapi juga ide, konten, dan nilai budaya nan dikemas secara strategis.

Untuk mencapai visi tersebut, dia merumuskan tiga pilar utama nan kudu dibenahi:

  • Pendekatan Bisnis Serius: Mengubah pola pikir dari sekadar "pelengkap" menjadi sektor utama.
  • Sistem Distribusi Kuat: Memastikan karya menjangkau audiens nan tepat secara efisien.
  • Daya Saing Global: Menyiapkan standar kualitas nan bisa berkompetisi di arena internasional.

“Ini bukan lagi soal lokal alias nasional. Industri imajinatif bakal menjadi arena persaingan global, dan Indonesia punya semua modal untuk ikut bermain di level itu,” pungkas Renaldy.

Baginya, masa depan industri imajinatif Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa imajinatif buahpikiran nan dimiliki, melainkan oleh seberapa serius industri ini dikelola secara sistematis. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia