Gelombang tinggi menghantam tanggul pemecah ombak di pesisir pantai Aceh.(Dok. Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan awal mengenai potensi gelombang tinggi nan menakut-nakuti sejumlah wilayah perairan Indonesia. Samudra Hindia di barat Aceh dan selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) diidentifikasi sebagai area paling rawan dengan akibat gelombang mencapai empat meter.
Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa kejadian ini diprediksi berjalan selama periode 19-22 Mei 2026. Peningkatan tinggi gelombang ini dinilai sangat berisiko terhadap operasional transportasi laut, mulai dari perahu nelayan hingga kapal berukuran besar.
Pemicu Angin Kencang
Berdasarkan laporan prakiraan cuaca BMKG, kondisi ini dipicu oleh pola angin di wilayah Indonesia bagian selatan nan bergerak kencang dari arah Tenggara. Kecepatan angin dilaporkan dapat mencapai 30 knot, dengan titik tertinggi terpantau di Samudra Hindia selatan NTT.
"Hal ini memicu gelombang tinggi berisiko pada kategori 2,5 hingga 4,0 meter di selatan NTT dan barat Aceh," ujar Eko Prasetyo di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Eko menekankan bahwa ketinggian ombak tersebut berada pada level berbahaya. Risiko ini tidak hanya mengintai perahu nelayan tradisional, tetapi juga armada nan lebih besar seperti kapal tongkang dan kapal feri penyeberangan antarpulau.
Risiko Keselamatan Pelayaran
BMKG merilis pedoman kajian akibat keselamatan berasas jenis armada untuk meminimalisir kecelakaan di laut selama periode gelombang tinggi ini. Mengingat potensi ancaman nan ada, BMKG meminta otoritas pelayaran, pihak syahbandar, dan operator kapal di wilayah Aceh maupun NTT untuk memperketat pengawasan. Penundaan aktivitas pelayaran sangat disarankan andaikan kondisi cuaca di lapangan terus memburuk.
Masyarakat nan tinggal dan beraktivitas di sekitar pesisir nan berkesempatan terjadi gelombang tinggi diminta untuk tetap waspada dan terus memantau perkembangan info cuaca resmi dari BMKG. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·