Ilustrasi.(Magnific)
LAPORAN rahasia nan mengejutkan sampai ke tangan jenderal tertinggi Donald Trump dan memperingatkan bahwa Tiongkok secara aktif menjual senjata kepada sekutu-sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan Beijing tepat saat pasukan AS mulai kehabisan stok persenjataan mereka akibat bentrok nan berkepanjangan.
Analisis intelijen nan disusun oleh direktorat intelijen Staf Gabungan untuk Jenderal Dan Caine pekan ini memicu sirine di dalam Pentagon. Laporan ini muncul tepat saat Presiden Trump bersiap untuk berjumpa dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada Kamis (14/5).
Tiongkok Mengisi Celah Persenjataan
Di saat Amerika Serikat menguras penyimpanan senjatanya untuk memihak sekutu Teluk dari serangan Iran, Tiongkok melangkah masuk untuk mengisi kekurangan tersebut. Beijing menjual senjata kepada sekutu-sekutu nan justru sedang berupaya dilindungi oleh Washington.
Meskipun laporan intelijen nan dikutip oleh Washington Post tersebut tidak menyebut secara spesifik negara Teluk mana nan dipasok, Arab Saudi dan Emirat Arab telah lama menjadi pengguna regional terbesar Beijing. Nilai transaksi ini diperkirakan mencapai nomor fantastis.
Krisis Stok Rudal: Pasukan AS dilaporkan menghabiskan nyaris separuh dari stok pencegat Patriot, lebih dari separuh pertahanan rudal balistik THAAD, dan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk selama 39 hari perang.
Energi sebagai Senjata Diplomasi
Selain senjata, Tiongkok memasok daya ke negara-negara nan terdampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran, termasuk Australia, Tailan, dan Filipina. Semua merupakan sekutu perjanjian AS.
Meskipun Trump mengeklaim penutupan Selat Hormuz lebih merugikan Tiongkok lantaran 45 persen impor minyak mentahnya melewati jalur tersebut, intelijen memperingatkan bahwa Beijing bisa bertahan. Tiongkok mempunyai persediaan minyak nan sangat besar dan telah membangun sumber daya terbarukan secara masif.
"Tiongkok adalah negara kedua nan paling terisolasi di bumi terhadap krisis energi, setelah AS," kata Ryan Hass, master Tiongkok di Brookings Institution. Ia menambahkan bahwa Beijing memanfaatkan kesempatan ini untuk menancapkan baji atau memecah belah hubungan antara Amerika dan mitra tradisionalnya.
Pergeseran Kekuatan Geopolitik
Laporan intelijen tersebut memperingatkan bahwa Beijing memanfaatkan bentrok 39 hari ini untuk memperluas pengaruh militer, ekonomi, dan diplomatiknya secara global. Tiongkok memosisikan diri sebagai kekuatan dunia nan bertanggung jawab, menyebut serangan AS ke Iran sebagai tindakan ilegal, dan menawarkan diri sebagai pengganti penyeimbang terhadap kepemimpinan Trump.
"Perang di Iran secara masif meningkatkan posisi geopolitik Tiongkok," ujar Jacob Stokes, peneliti senior di Center for a New American Security.
Respons Pentagon dan Gedung Putih
Menanggapi laporan ini, ahli bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa klaim mengenai pergeseran keseimbangan kekuatan dunia ke negara lain selain Amerika Serikat merupakan salah secara fundamental. Ia menyatakan bahwa AS tetap mempertahankan penyimpanan senjata nan handal dan kapabilitas industri nan diperlukan untuk melindungi kepentingannya.
Sementara itu, ahli bicara Gedung Putih Olivia Wales menyatakan bahwa AS melumpuhkan keahlian militer rezim Iran dalam 38 hari dan sekarang sedang mencekik sisa ekonomi mereka dengan blokade angkatan laut tersukses dalam sejarah.
| Rudal Tomahawk | > 850 Unit | 3 - 5 Tahun |
| Pencegat Patriot | Hampir 50% Stok | 3 - 5 Tahun |
| Pertahanan THAAD | > 50% Stok | 3 - 5 Tahun |
Pertemuan Trump dan Xi di Beijing pada Kamis menjadi tatap muka pertama sejak perang Iran meletus pada 28 Februari. Trump diperkirakan bakal mendesak Xi untuk menekan Teheran agar menerima gencatan senjata, sementara Xi kemungkinan besar bakal menuntut keringanan tarif dan akses ke chip AI rancangan Amerika. (Daily Mail/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·