Bongkar Muat Kapal di Pelabuhan Molor hingga 6 Hari, Ternyata Ini Penyebabnya

Sedang Trending 6 bulan yang lalu

Bongkar Muat Kapal di Pelabuhan Molor hingga 6 Hari, Ternyata Ini Penyebabnya

Bongkar Muat Kapal di Pelabuhan Molor hingga 6 Hari, Ternyata Ini Penyebabnya (Foto: Freepik)

JAKARTA - Keterlambatan waktu sandar dan bongkar muat kapal kembali menjadi sorotan ditengah meningkatnya arus logistik pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026. 

Sejumlah kapal nan tiba di beberapa pelabuhan kudu menunggu 5-6 hari untuk dapat sandar dan melakukan bongkar muat barang. Buruknya jasa bongkar muat di pelabuhan diduga akibat peralatan nan dan sering rusak sehingga produktivitasnya terjun bebas.  

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan, di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya proses kapal sandar dan bongkar muat menjadi lebih lama. Kalau biasanya maksimal 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari, sehingga menyebabkan shortage container (kekurangan kontainer).

“Saya memandang beberapa kapal menunggu pembongkaran lebih lama. Kalau biasanya maksimal 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari. Ini lantaran beberapa perangkat bongkar muat alias crane sudah tua, misalnya di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam, dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,” kata Sebastian di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Penyebab Bongkar Muat Kapal Lebih Lama

Seharusnya, lanjut Sebastian, PT Pelindo segera melakukan peremajaan perangkat  bongkar muat di beragam terminal lantaran beberapa perangkat sudah tua sehingga proses bongkar muat menjadi lebih lama. Idealnya jumlah Container Processing Area (CPA) per jam 30-40 kontainer, sekarang hanya bisa menangani 10 kontainer. Melalui peremajaan alat, maka proses bongkar muat bisa lebih cepat.

Sebastian menambahkan akibat molornya proses bongkar muat, pengiriman peralatan juga terkendala, lantaran terjadi kelangkaan kontainer alias shortage di beberapa pelabuhan. Sementara perusahaan-perusahaan forwarder nan sudah mempunyai agenda pengiriman peralatan nan sudah pasti, menjadi molor pengangkutannya. 

“Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah susah dapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian,” ujar Sebastian. 

Dia mengungkapkan, biasanya rata-rata tiap hari mendapatkan 20-40 kontainer, sekarang hanya dapat 10 kontainer. Dengan 40 kontainer pihaknya dapat mengirimkan sebanyak 1.000 ton per hari.  Kini, dengan hanya dapat 10 kontainer, maka hanya 250 ton nan bisa segera terkirim.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com