Jakarta -
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan sejumlah langkah nan tengah dilakukan BI untuk menahan tekanan terhadap rupiah di tengah gejolak global. Perry menyebut langkah stabilisasi nan dilakukan saat ini bukan lagi business as usual, melainkan sudah dilakukan secara all out habis-habisan.
Menurutnya, BI telah meningkatkan intervensi valas secara besar-besaran, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Langkah tersebut membikin persediaan devisa turun sekitar US$ 10 miliar, meski sebagian besar intervensi dilakukan melalui instrumen swap dan hedging agar tidak terlalu menguras devisa.
"Sehingga penurunan persediaan devisa nan sekitar US$ 10 miliar, itu baru sebagian saja intervensi nan tunai ini, lantaran nan sebagian besar lebih dari 2/3 itu adalah untuk secara swap sama hedging, agar ini tidak semua menguras persediaan devisa," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (8/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, BI-Rate ditahan di kisaran 4,75% sejak Januari 2025, sementara SRBI naik menjadi 6,41% untuk tenor 12 bulan guna menarik kembali aliran modal asing. Perry menyatakan langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, di mana aliran biaya asing nan sebelumnya keluar sekarang diklaim mulai kembali masuk.
BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder untuk menjaga likuiditas rupiah di pasar keuangan. Sepanjang 2025 BI tercatat membeli SBN sebesar Rp 332 triliun dan tambahan Rp 133 triliun secara year to date pada 2026.
"Langkah dan seterusnya adalah, sebenarnya kami belajar dulu, era 1997, 1998, 2008 dulu kan kita banyak konsentrasi untuk stabilitas nilai rupiah, banyak intervensi tidak sadar intervensi ini nan meningkatkan instrumen moneter tapi menguras likuiditas. Sehingga, ya mengobati stabilitas nilai rupiah tapi menimbulkan kekeringan likuiditas," jelasnya.
"Kami nggak mau itu. Makanya kami membeli pembelian SBN dari pasar sekunder, sehingga likuiditasnya ngucur lagi, sehingga tahun lampau kami beli Rp 332 triliun, year to date kami lakukan Rp 133 triliun, ini sekaligus ya, untuk satu tujuannya, adalah agar tidak kekeringan likuiditas," sambung dia.
Dalam strategi operasi moneternya, BI juga menjual SBN jangka pendek guna menarik inflow asing, namun membeli SBN jangka panjang agar imbal hasil alias yield obligasi pemerintah tidak melonjak terlalu tinggi.
Tak hanya itu, BI turut memperketat pembelian dolar AS. Jika sebelumnya pemisah pembelian dipangkas dari US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu, mulai Juni 2026 pemisah tersebut kembali diturunkan menjadi US$ 25 ribu per bulan.
"Kemudian batas pembelian dolar nan semula US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu mulai April, kelak kami sampaikan kelak mulai Juni bakal diturunkan menjadi US$ 25 ribu. Sehingga pembelian dolar tanpa underlying, silahkan jika tanpa underlying itu kelak mulai Juni menjadi US$ 25 ribu, agar betul-betul nan beli dolar, 'nemen ya', beneran seperti itu," beber Perry.
Langkah lain nan ditempuh ialah memperluas transaksi Local Currency Transaction (LCT) rupiah-yuan di dalam negeri nan terhubung dengan Hong Kong dan China. BI juga mulai menunjuk sejumlah bank domestik untuk melakukan transaksi offshore non-deliverable forward (NDF).
Terakhir, meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi nan melakukan transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar. Perry sendiri percaya dolar AS bakal menguat ke kisaran Rp 16.200-16.800, alias mendekati Rp 16.500 sesuai dugaan APBN.
(acd/acd)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·