Ilustrasi krisis air bersih(Liliek Dharmawan / MI)
PEMERINTAH Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mulai memitigasi kekeringan pada musim tandus 2026 nan ditandai kejadian El Nino Godzilla. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah alias BPBD Purbalingga Revon Haprindiat mengatakan langkah antisipatif tersebut dilakukan untuk menekan akibat tandus panjang sebagaimana prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
“Sejumlah persiapan sudah kami lakukan, salah satunya melalui rapat koordinasi berbareng PDAM, PMI, dan Baznas guna memastikan kesiapan suplai air bersih bagi masyarakat,” ujarnya pada Rabu (8/4).
BPBD tengah menyiapkan surat keputusan (SK) penetapan status kekeringan dan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) sebagai landasan percepatan penanganan andaikan kondisi darurat terjadi.
Untuk memperkuat upaya tersebut, BPBD turut mengusulkan tambahan anggaran kepada pemerintah wilayah serta memastikan kesiapan armada pengedaran air bersih. “Kami telah mengecek kesiapan armada agar dapat segera dikerahkan ketika dibutuhkan,” katanya.
Dalam menentukan wilayah prioritas, BPBD merujuk pada info kejadian kekeringan ekstrem pada musim tandus 2023. Saat itu, sebanyak 91 desa alias kelurahan di 16 kecamatan terdampak, dengan total pengedaran air bersih mencapai 2.597 tangki alias sekitar 11,6 juta liter selama 108 hari.
Distribusi tersebut dilakukan dengan mengerahkan armada tangki milik BPBD, didukung kendaraan dari PDAM dan PMI. “Data ini menjadi referensi kami untuk menentukan wilayah prioritas, terutama wilayah nan rutin mengalami krisis air bersih saat kemarau,” tegasnya.
BPBD juga melakukan pemetaan ulang sumber mata air pascabanjir dan longsor nan terjadi pada akhir Januari 2026. Salah satu sumber nan sempat terdampak, ialah mata air Sikopyah, sekarang sudah kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat meski tetap dalam tahap perbaikan permanen.
“Untuk sementara sudah bisa digunakan warga, dan saat ini tetap dalam proses perbaikan agar lebih optimal,” jelasnya.
Selain ancaman kekeringan, BPBD Purbalingga juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di area lereng Gunung Slamet nan rawan terbakar saat musim kemarau.
Upaya pencegahan, ujar dia, dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai ancaman karhutla serta pentingnya menjaga lingkungan.
“Kami juga menyiapkan kesiapan teknis dan izin sebagai langkah antisipasi jika terjadi kebakaran rimba maupun lahan,” pungkasnya. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·