Brand Sepatu Asal Surabaya yang Viral Pastikan Tak Ikut Sekolah Rakyat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Surabaya, CNN Indonesia --

Pemilik merek sepatu lokal asal Surabaya Stradenine, Reynaldi Kurniawan Daud, menegaskan pihaknya tidak mempunyai kemauan untuk terlibat dalam proyek pengadaan sepatu Sekolah Rakyat nan dijalankan Kementerian Sosial (Kemensos).

Hal itu ditegaskan Reynaldi meskipun pemerintah berjanji bakal melakukan proses lelang secara terbuka dan transparan, Reynaldi mengaku memilih untuk tetap melakukan penjualan pengedaran reguler.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sikap ini diambil Reynaldi setelah nama brand-nya viral akibat dikaitkan dengan alokasi anggaran pengadaan sepatu senilai Rp27,5 miliar untuk tahun 2026. Reynaldi mengaku cemas keterlibatan dalam proyek pemerintah justru bakal membawa akibat terhadap upaya pribadinya di masa depan.

"Sebenarnya jika saya pribadi sih enggak Mas ya. Maksudnya lantaran kita fokusnya sih jualan ke ini aja sih. Jualan ke kalangan ini. Kita kan sebagai pengusaha ya, takut keseret jika ada apa-apa," kata Reynaldi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (5/5).

Lebih lanjut, Reynaldi curhat dirinya kecewa atas opini publik nan telanjur terbentuk mengenai merek sepatu produksinya nan dikaitkan dengan pengadaan Sekolah Rakyat. Menurutnya, sorotan nan didapatkan Stradenine dalam beberapa hari terakhir menyeretnya ke hubungan politik dan proyek pengadaan nan sensitif.

"Kalau menyayangkan sih, ya sebenarnya kan kita enggak pernah berambisi dikenal dengan langkah seperti ini. Jadi kayak kita juga menyayangkan kenapa kok kita ini dikenalnya, ter-framing-nya, seperti itu. Satu dengan sepatu pengadaan, kedua kita punya hubungan dengan pemerintah. Itu kan sebenarnya kita enggak mau," ucapnya.

Reynaldi mengatakan, warganet di media sosial Threads menghubungkan brand-nya nan terpampang pada foto pengarsipan 2025 dengan rencana pengadaan pemerintah untuk Sekolah Rakyat tahun anggaran 2026.

Foto nan menjadi pemicu spekulasi tersebut memperlihatkan momen seremonial Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berbareng Menteri Sosial Saifullah Yusuf sedang tersenyum memasangkan sepatu produk Stradenine ke perwakilan siswa Sekolah Rakyat.

Reynaldi menegaskan keberadaan sepatu Stradenine dalam foto itu tidak mempunyai kaitan dengan proyek pengadaan puluhan ribu pasang sepatu Sekolah Rakyat nan saat ini sedang disorot.

"Saya tidak ada hubungan sama gambar itu, Mas. Jadi sebenarnya saya juga kaget nih ada gambar itu. Karena tidak ada pembelian secara langsung, Mas, ke saya sebagai owner brand, terhadap tulisan [tipe sepatu Stradenine] itu ya," ucapnya.

Lebih lanjut, Reynaldi menambahkan secara prinsip bisnis, Stradenine lebih nyaman bergerak di pasar luring namalain offline dengan menjangkau masyarakat langsung melalui pemasok di beragam daerah, dari pada ikut program pengadaan pemerintah.

"Saya sebagai brand ya. Kita ini sebenarnya brand offline, lantaran kita menjangkau semua kalangan di luar Pulau Jawa. Kita ini satu Indonesia sudah pengedaran sebenarnya," katanya.

Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf alias Gus Ipul memberikan penjelasan mengenai polemik anggaran pengadaan sepatu untuk program Sekolah Rakyat nan mencapai Rp27,5 miliar.

Anggaran itu menjadi sorotan publik, lantaran muncul dugaan nilai sepatu Sekolah Rakyat itu menyentuh nomor Rp700 ribu per pasang.

Gus Ipul menjelaskan nomor itu hanya perencanaan awal dan belum final. Menurutnya anggaran nan direncanakan bakal melalui proses pengadaan nan transparan.

"Jadi gini, setiap anggaran itu kan direncanakan sebelumnya ya. Direncanakan dan kelak tentu ada proses pengadaan. Nah proses pengadaan ini dilelang secara terbuka dan kelak hasilnya pasti lebih murah dari perencanaannya," kata Gus Ipul saat meninjau pembangunan Sekolah Rakyat Kedung Cowek Surabaya, Minggu (3/5).

Menurut Gus Ipul, jika proses lelang dan pengadaan sudah dilakukan, maka anggaran dan nilai sepatu bakal jauh lebih murah dari perencanaan awal.

"Jadi jika sekarang disebut Rp700 ribu ya, kelak bisa hasilnya jauh di bawah itu," ucapnya.

Meski tidak merinci perincian teknis proses lelang, Gus Ipul mengaku telah mewanti-wanti seluruh jejeran di Kemensos agar tidak melakukan penyimpangan dalam menjalankan salah satu program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto tersebut.

Wakil Gubernur Jatim dua periode ini pun menjanikan komitmennya  untuk menjadi pihak pertama nan melaporkan jika ditemukan adanya manipulasi alias praktik terlarangan dalam proyek ini.

"Mari kita belajar kepada hal-hal nan tidak baik di masa lalu. Kita jadikan pelajaran dan ke depan ini kita kudu betul-betul bersih dari korupsi. Kalau terjadi pelanggaran, jika terjadi manipulasi, jika ada kongkalikong, saya dan Pak Wamen sudah berkomitmen bakal menjadi pihak pertama nan melaporkan teman-teman di Kementerian Sosial nan main-main dengan pengadaan peralatan dan jasa," ucapnya.

Tuduh rumor mark up nilai sepatu sebagai fitnah

Dua hari kemudian, lewat keterangan resmi berbareng Wamensos Agus Jabo Priyono, Gus Ipul menuding rumor mark up nilai sepatu siswa Sekolah Rakyat nan belakangan viral di media sosial sebagai info bohong namalain hoaks dan hanya berisi fitnah.

"Itu fitnah, hoax," kata Gus Ipul dalam konvensi pers di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (5/5), dikutip dari keterangan resmi.

Gus Ipul lantas menunjukkan potongan narasi beserta foto melalui layar digital nan memuat foto dirinya dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tengah memberikan sepatu ke siswa Sekolah Rakyat. Foto tersebut merupakan potongan pengarsipan aktivitas Dialog Pilar-Pilar Sosial se-Malang Raya pada 2 Mei 2025 lalu.

Sementara sepatu nan diberikan adalah bingkisan dari Gubernur Khofifah kepada 10 siswa Sekolah Rakyat nan berasal dari APBD Pemprov Jawa Timur, bukan hasil pengadaan dari Kemensos.

"Sepatu nan dari Bu Khofifah, itu pemberian, itu support dari Bu Khofifah untuk siswa Sekolah Rakyat di Jawa Timur," ujarnya.

Menurut Gus Ipul, membandingkan satu foto sepatu bermerek tertentu nan beredar di media sosial dengan keseluruhan pengadaan sepatu untuk siswa Sekolah Rakyat adalah tidak tepat, lantaran setiap jenis sepatu mempunyai fungsi, spesifikasi, dan nilai nan berbeda.

Dia menjelaskan nilai Rp700 ribu nan disematkan dalam perencanaan untuk sepasang sepatu nan beredar di media sosial merupakan pagu anggaran (batas maksimal), bukan nilai pembelian riil.

Ia menambahkan, penetapan pagu dilakukan melalui survei dan sistem nan berlaku, kemudian proses pengadaan dilakukan secara kompetitif lewat sistem lelang.

"Pemenangnya tentu nan paling murah dan memenuhi spesifikasi, memenuhi standar nan telah ditetapkan," lanjutnya.

Pada tahun 2025, setiap siswa Sekolah Rakyat menerima beberapa jenis sepatu untuk menunjang beragam aktivitas, yaitu, sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) untuk aktivitas luar ruang, sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) untuk aktivitas belajar di kelas, sepatu olah raga untuk aktivitas fisik, dan sepatu harian/santai untuk penggunaan di lingkungan asrama.

Seluruh jenis sepatu tersebut sudah termasuk kaos kaki, sehingga kebutuhan dasar siswa terpenuhi tanpa biaya tambahan.

(frd/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional