BUPATI Gowa Sitti Husniah Talenrang.(MI/Lina)
BUPATI Gowa Sitti Husniah Talenrang memperingatkan adanya ancaman tersembunyi perkawinan anak nan tetap terjadi di lapangan, apalagi kerap dibarengi kehamilan dini. Di kembali nomor prevalensi nan turun drastis dari 21,1 persen menjadi 17 persen berasas Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, persoalan serius tetap mengintai.
"Kawin anak menghentikan pendidikan, memaksa anak memikul tanggung jawab sebelum waktunya, dan membuka pintu lahirnya generasi stunting. Inilah lingkaran nan kudu kita putus sekarang," tegasnya dalam aktivitas Halal Bihalal dan Sosialisasi Cegah Kawin Anak dan Stunting untuk Gowa Maju, di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa, Kamis (9/4).
Acara nan diikuti sekitar 700 peserta dari beragam organisasi perempuan, Majelis Ta'lim, dan unsur masyarakat itu merupakan hasil kerjasama antara Ikatan Penyuluh Agama RI dan Kelompok Kerja Majelis Ta'lim Kabupaten Gowa.
Kabupaten Gowa baru saja meraih Peringkat III Kategori Inovasi Aksi Stop Stunting Terbaik se-Sulawesi Selatan. Program unggulan "ASS" (Aksi Stop Stunting) dinilai berhasil. Namun, Bupati nan berkawan disapa Bupati Talenrang itu tak mau berpuas diri.
Ia mengungkapkan kebenaran di lapangan, pernikahan di bawah umur tetap terjadi, apalagi dengan kondisi kehamilan lebih dulu. "Jika kita diam, kita ikut bertanggung jawab. Jika kita abai, kita mempertaruhkan masa depan Gowa," ujarnya.
Oleh lantaran itu, dia meminta peran aktif KUA hingga ke wilayah terpencil untuk melakukan sosialisasi ancaman pernikahan dini.
"Kami mau KUA bisa menjangkau desa-desa terpencil. Menikah kudu siap, bukan sekadar cepat. Anak kudu tumbuh sehat, bukan sekadar tumbuh," ajaknya.
Bupati Talenrang menegaskan bahwa "perang melawan kawin anak dan stunting" bukan semata tanggung jawab pemerintah. Ia membujuk Majelis Ta'lim menjadi garda terdepan perubahan sosial.
"Saya berambisi ibu-ibu Majelis Ta'lim tidak hanya hadir, tetapi menjadi penggerak perubahan," katanya.
Pada kesempatan nan sama, dia juga memaparkan lima program prioritas wilayah nan memerlukan support publik, Gowa Annangkasi (Bersih), Gowa Caradde (Cerdas) melalui Gerakan Gowa Mengaji, Gowa Masunggu (Sejahtera) untuk pengentasan kemiskinan ekstrem, Gowa Salewangan (Sehat), dan Gowa Masannang (Aman).
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Gowa, Jamaris, menyatakan bakal memperkuat kerjasama dengan organisasi wanita hingga tingkat desa.
"Kami bakal menggandeng PKK, Dharma Wanita, dan Majelis Ta'lim. Mereka bergesekan langsung dengan masyarakat," ujarnya.
Ia mengakui tantangan budaya dan kekhawatiran orang tua menolak lamaran tetap menjadi pemicu pernikahan usia dini. "Ini kondisi nan kudu kita hadapi bersama," pungkasnya.
Sementara itu Ketua Panitia, Fatmawati (Penyuluh Agama Islam Kecamatan Somba Opu), menyoroti pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam upaya menekan stunting. "Peran organisasi wanita sangat strategis untuk mewujudkan Gowa Maju," jelasnya.
Meski Gowa menunjukkan progres, nomor perkawinan anak di Sulawesi Selatan tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan info UNICEF dan Kemenag, prevalensi perkawinan anak di Sulsel pada 2024 mencapai 8,09 persen, jauh di atas rata-rata nasional 5,90 persen. Sulsel sekarang berada di ranking ke-11 nasional.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan UNICEF Sulawesi dan Maluku, Henky Wijaya, mengingatkan bahwa penurunan pengecualian kawin bukan berita baik jika diiringi pergeseran ke perkawinan siri tidak tercatat.
"Ketika pengecualian diperketat, perkawinan anak tidak otomatis hilang. nan terjadi justru pergeseran ke perkawinan siri," jelasnya.
Data kehamilan anak di sejumlah kabupaten juga menunjukkan lonjakan, Gowa mencatat 304 anak hamil, namun hanya 8 pengecualian nikah nan diajukan. Makassar 331 hamil, 9 dispensasi. Bone 241 hamil, 10 dispensasi. Takalar 204 hamil, 0 dispensasi.
Henky menambahkan, akibat kematian ibu melahirkan di bawah usia 18 tahun lima kali lebih tinggi dibandingkan ibu dewasa. Selain itu, anak hasil perkawinan siri sering tak berakta lahir, menghalang akses pendidikan, kesehatan, dan support sosial.
Harapannya, dengan kerjasama lintas sektor dan aktivitas dari akar rumput, Gowa berambisi tak hanya mencatatkan penurunan stunting, tetapi juga memutus rantai perkawinan anak untuk selamanya. (LN/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·