Cerita Prabowo Jadi Korban AI: Kaget Bisa Nyanyi Bagus di YouTube dan Fasih Bahasa Arab

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Kaget Bisa Nyanyi Bagus di YouTube dan Fasih Bahasa Arab Presiden Prabowo Subianto(tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)

DI kembali kecanggihan teknologi, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pengalamannya menjadi "korban" manipulasi teknologi kepintaran buatan alias Artificial Intelligence (AI). Ia menyebut AI sekarang bisa memanipulasi bunyi dan penampilan seseorang hingga terlihat sangat nyata, meskipun tidak sesuai kenyataan.

“AI bisa membikin seseorang bicara nan dia tidak bicara. Saya sering loh,” ujar Presiden Prabowo saat memberikan taklimat pada Rapat Kerja Pemerintah berbareng Kabinet Merah Putih serta jejeran Eselon I dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4).

Kaget Bisa Bernyanyi Bagus di YouTube

Salah satu momen nan membikin Presiden terkejut adalah saat dia menemukan konten di platform video nan menampilkan dirinya sedang menyanyi dengan bunyi merdu. Padahal, secara terbuka Prabowo mengaku tidak mempunyai keahlian olah vokal nan mumpuni.

“Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tapi ada di YouTube saya bisa nyanyi, suaranya bagus banget. Saya saja kaget,” tuturnya nan disambut tawa para peserta rapat.

Tak hanya bernyanyi, Presiden juga mendapati konten manipulatif (deepfake) nan menggambarkan dirinya berpidato fasih dalam bahasa Mandarin dan bahasa Arab. Menariknya, Prabowo berseloroh bahwa kejadian tersebut sempat dia diamkan lantaran dianggap menguntungkan di wilayah tertentu saat masa kampanye.

“Ada lagi saya berpidato dengan bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira jika di daerah-daerah tapal kuda ini mungkin menguntungkan, jadi saya tak bersuara juga. Kalau menguntungkan kita diam,” katanya seraya tertawa.

Waspadai Fitnah Digital dan ‘Echo Chamber’

Namun, di kembali candaannya, Presiden memberikan peringatan serius. Ia menilai perkembangan AI dan sistem informatika digital dapat digunakan untuk memproduksi hoaks dan tuduhan nan berpotensi merusak kedaulatan sebuah negara.

Menurutnya, perang masa sekarang tidak lagi melulu soal pengiriman pasukan alias bom, melainkan melalui permainan media sosial nan manipulatif. Prabowo menyoroti penggunaan ribuan akun tiruan nan diciptakan untuk menciptakan pengaruh kemandang alias echo chamber.

“Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks. Cukup 100 orang, 1.000 orang, bisa bikin heboh. Ini namanya echo chamber. Dalam pembelajaran intelijen, ini ada teknik gimana merusak sebuah negara lain,” tegas Presiden. 

(Ant/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia