Jakarta -
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Pandu Patria Sjahrir mengungkap tingginya minat penanammodal swasta terhadap proyek waste to energy (WTE) alias sulap sampah menjadi daya di Indonesia.
Jumlah peserta lelang proyek tahap kedua melonjak hingga empat kali lipat dibanding tahap pertama. Pada fase pertama terdapat 24 perusahaan nan mengikuti proses bidding setelah diseleksi dari ratusan peminat. Sementara pada fase kedua, jumlah peserta meningkat menjadi 85 konsorsium untuk 10 letak proyek nan ditawarkan.
"Jadi dari 100-200 something nan mencoba, 24 kita pilih. Untuk fase dua ini, kita punya 85 konsorsium nan bid untuk 10 letak nan ada nan sudah kita sharing. Jadi sudah 4 kali lipat, naik dari sisi demand," jelas Pandu dalam Investor Daily Round Table di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, tingginya minat penanammodal menunjukkan sektor swasta tetap memandang proyek prasarana daya di Indonesia sebagai kesempatan menarik. Apalagi proyek WTE mempunyai total nilai investasi mencapai US$ 5 miliar alias setara Rp 89 triliun (kurs Rp 17.800).
Dia menambahkan, penanammodal nan ikut tidak hanya berasal dari Indonesia maupun China. Sejumlah perusahaan dari Korea Selatan, Jepang, Eropa, Timur Tengah hingga Singapura juga ikut berperan-serta dalam proses bidding proyek tersebut.
"All of it private sector. Dan tidak hanya dari Indonesia, tidak juga hanya dari China. Ada dari Korea, Jepang, dari Eropa, Middle East, Singapura," ungkap Pandu.
Lebih lanjut, dia memastikan keterlibatan swasta bakal terus menjadi bagian krusial dalam pengembangan proyek WTE ke depan.
"Dan WTE ini kan it's a US$ 5 billion project total. Di mana private sector participation bakal selalu ada, baik dari equity holder, dan nan lain-lain," tutupnya menjelaskan.
(ily/hal)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·