Ilustrasi.(Magnific)
DR Craig Spencer, master nan pernah terinfeksi Ebola saat menangani pasien pada pandemi tahun 2014, menyampaikan peringatan serius mengenai situasi kesehatan dunia saat ini. Dalam wawancaranya dengan ABC News, Spencer menyatakan keyakinannya bahwa wabah Ebola nan tengah berjalan saat ini jauh lebih besar daripada angka-angka nan dilaporkan secara resmi.
"Kekhawatiran terbesar saya tentang pandemi ini adalah kita belajar terlalu banyak perihal dengan sangat cepat, dan ini menandakan situasi nan sangat buruk," ujar Spencer, nan sekarang menjabat sebagai guru besar kesehatan publik di Brown University.
Refleksi dari Penyintas dan Ahli Epidemiologi
Pengalaman Spencer memberikan perspektif nan mendalam. Pada tahun 2014, dia dinyatakan positif Ebola setelah merawat pasien di Guinea berbareng organisasi Doctors Without Borders (MSF). Sekembalinya ke Amerika Serikat, dia menjalani perawatan intensif selama 19 hari di Rumah Sakit Bellevue, Manhattan.
Setelah dinyatakan sembuh, Spencer tidak berhenti. Beberapa bulan kemudian, dia kembali ke Guinea sebagai mahir epidemiologi untuk membantu menjalankan respons nasional bagi MSF pada awal 2015. Pengalaman langsung di lapangan inilah nan membuatnya skeptis terhadap info resmi nan beredar saat ini.
Kritik terhadap Peran Pemerintah AS
Spencer menyoroti mundurnya pemerintah Amerika Serikat dari peran historisnya nan menonjol dalam kesehatan global. Menurutnya, langkah ini membikin bumi kehilangan arah dan tidak siap dalam menanggapi pandemi nan terjadi saat ini.
Ia juga memberikan perhatian unik kepada seorang master Amerika nan baru-baru ini terinfeksi Ebola saat merawat pasien di Republik Demokratik Kongo. "Sayangnya, saya tahu persis gimana rasanya berada dalam situasi itu, merasa sangat ketakutan, menghadapi penyakit nan mungkin telah Anda lihat dampaknya dan tahu bahwa belum ada pengobatan nan pasti," katanya.
Konteks Krisis: Wabah di Republik Demokratik Kongo terus menjadi perhatian serius para mahir kesehatan internasional. Kurangnya transparansi info dan prasarana kesehatan nan lumpuh akibat bentrok lokal memperburuk upaya penanganan di lapangan.
Kesiapan untuk Kembali Membantu
Meskipun pernah bertaruh nyawa dan menyadari beban emosional nan ditanggung keluarganya, Spencer menyatakan kesiapannya jika kudu kembali terjun ke wilayah wabah. "Saya sudah membikin family saya melewati banyak hal. Kita bakal lihat apa nan terjadi nanti, tapi saya dengan senang hati bakal membantu," pungkasnya.
Pernyataan Spencer ini menjadi pengingat bagi organisasi internasional bahwa penanganan pandemi memerlukan transparansi info nan jeli dan kerja sama lintas negara nan kuat, bukan sekadar angka-angka di atas kertas nan mungkin tidak mencerminkan realitas tragis di lapangan. (ABC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·