M. David Ainul Ridho, 33, dalam membangun upaya fashion wanita di Pekalongan, Jawa Tengah.(MI/Suparji)
PERJALANAN M. David Ainul Ridho, 33, dalam membangun upaya fashion wanita adalah potret ketangguhan dan keberanian memandang kesempatan di era digital. Berawal dari seorang pekerja konveksi, laki-laki asal Desa Getas, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah ini sukses mengubah hidupnya dan memberdayakan puluhan penduduk desa melalui kanal penjualan online.
David mengawali usahanya dari nol pada tahun 2015 dengan modal Rp40 juta. Saat itu, dia tetap berstatus tenaga kerja dan belajar pemasaran secara berdikari melalui Facebook. Setahun kemudian, ketika platform Shopee mulai berkembang di Indonesia, David memandang kesempatan besar untuk memperluas jangkauan pasarnya.
“Awalnya ya belajar sendiri. Enggak punya mentor. Semua otodidak dan saya sendiri sebelum berdikari pernah bekerja sebagai pekerja konveksi pada seorang juragan,” terang David.
Keputusannya masuk ke marketplace terbukti jitu. Toko online-nya mulai kebanjiran pesanan dari beragam penjuru Indonesia, apalagi hingga ke Papua. Berbagai produk seperti blouse, long tunic muslim, hingga bawahan wanita menjadi andalannya dengan nilai nan sangat kompetitif, mulai dari Rp65 ribu hingga Rp86 ribu.
Masa pandemi covid-19 menjadi titik kembali nan luar biasa bagi usahanya. Saat banyak sektor upaya terpuruk, upaya David justru mengalami lonjakan pesanan nan signifikan. Dari nan semula hanya mengelola 20 hingga 30 transaksi per hari, volumenya meledak mencapai 3.000 transaksi per hari pada periode 2019–2021.
“Jadi waktu pandemi orang shopping online terus. Trafiknya tinggi sekali dan saya pada saat itu justru mendulang pesanan banyak sekali,” ungkapnya.
Menurut David, ekosistem Shopee mempunyai peran krusial dalam percepatan bisnisnya, mulai dari transparansi keuangan, sistem pencairan saldo nan lancar, hingga program promosi nan efektif.
“Kalau ikut campaign tertentu, trafik bisa naik dua kali lipat dibanding biasanya,” bebernya.
Kesuksesan ini tidak hanya dirasakan oleh David secara pribadi. Kini, dia bisa mempekerjakan sedikitnya 80 penduduk sekitar untuk proses produksi. Keberhasilan bisnisnya juga telah membawa akibat nyata bagi keluarganya, termasuk keberhasilannya memberangkatkan kedua orang tuanya beragama haji.
Meski saat ini menghadapi tantangan pasar nan menuntut penyesuaian tinggi, David tetap berkomitmen untuk menjaga roda produksinya terus berputar demi nasib para pekerjanya. Ia menyadari bahwa di kembali dinamika nilai bahan baku nan menuntut efisiensi, semangat untuk memperkuat adalah kunci utama.
“Kondisi sekarang itu bukan bicara untung besar lagi. Bisa memperkuat saja sudah syukur,” katanya pelan. (JI/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·