Dari Mitra Pengemudi Grab hingga Memiliki Usaha Baso Aci Mastyo

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Dari Mitra Pengemudi Grab hingga Memiliki Usaha Baso Aci Mastyo Nuryadi, pemilik Baso Aci Mastyo, nan memulai perjalanan sebagai Mitra Pengemudi Grab, sekarang berkembang sebagai mitra nan 'naik kelas', mengembangkan upaya kuliner dari rumah dengan memanfaatkan ekosistem Grab.(Dok. Grab)

PERJALANAN Nuryadi, nan berkawan disapa Mas Nur, membuktikan bahwa kerja keras dan pemanfaatan platform digital bisa membuka kesempatan baru bagi siapa saja. Berawal sebagai Mitra Pengemudi Grab untuk menafkahi keluarga, dia sekarang sukses mengelola upaya kuliner sendiri, Baso Aci Mastyo, dari rumah sederhana di gang kecil. 

Cerita Mas Nur menjadi contoh nyata gimana pengalaman sehari-hari, support komunitas, dan strategi digital dapat mengantarkan seseorang 'naik kelas' menjadi pelaku upaya mandiri.

Bagi Mas Nur, perjalanan ini bukan perihal instan. Ia menempuh beragam fase kehidupan, mulai dari bekerja sebagai karyawan, menjadi Mitra Pengemudi, hingga memberanikan diri merintis upaya rumahan. Semua dia lakukan dengan angan sederhana: memberikan kehidupan nan lebih baik bagi keluarganya.

Mas Nur pertama kali berasosiasi sebagai Mitra Pengemudi pada 2019. Saat itu, dia memandang jasa pesan-antar makanan mulai banyak diminati. Dari pengalaman mengantarkan pesanan setiap hari, dia mulai menyadari kesempatan besar bisnis kuliner berbasis online.

"Dulu waktu jadi driver, saya terbiasa menunggu orderan masuk. Tapi ketika mulai punya upaya sendiri, saya kudu berpikir setiap hari gimana caranya agar upaya tetap melangkah dan bisa berkembang," ujar Mas Nur.

Pengalaman tersebut perlahan mengubah pandangannya tentang bumi usaha. Langkah pertamanya dimulai dengan upaya Salad Buah Arjuna. Ia memilih salad buah lantaran saat itu makanan berbahan buah seperti salad, asinan, dan rujak sedang terkenal di platform pesan-antar.

Namun, perjalanan upaya tidak selalu mulus. Pandemi covid-19 membikin tren salad buah menurun. Alih-alih menyerah, Mas Nur mencari kesempatan baru dengan menganalisis menu nan diminati pengguna di platform digital. Dari situ, dia menemukan seblak dan baso aci tengah digemari masyarakat.

Berdasarkan kesempatan itu, Mas Nur merintis Baso Aci Mastyo pada 2020. Nama 'Mastyo' diambil dari anak pertamanya, sebagai simbol angan bagi masa depan keluarga. Dengan latar belakang pendidikan hingga SMK lantaran keterbatasan ekonomi keluarga, Mas Nur terdorong untuk terus berupaya memberikan kehidupan lebih baik bagi anak-anaknya.

"Kalau hanya mengandalkan pengguna sekitar tempat tinggal, tentu sangat terbatas. Tanpa digitalisasi, 'kolam usaha' kita juga jadi jauh lebih kecil," kata Mas Nur.

Sejak awal, dia konsentrasi memanfaatkan platform digital agar UMKM mini seperti miliknya dapat menjangkau lebih banyak pelanggan. Mas Nur aktif memanfaatkan fitur promosi nan tersedia, termasuk mencoba GrabAds sejak pertama kali diluncurkan. Strategi ini membantu meningkatkan visibilitas upaya di tengah persaingan platform digital.

"Biasanya saya kasih promo free ongkir sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 dengan minimal pembelian sekitar Rp150.000, agar pengguna tetap tertarik untuk pesan meskipun jaraknya agak jauh," jelasnya.

Strategi ini terbukti efektif. Menu andalannya, Baso Aci Tulang Rangu, sekarang menjadi favorit pelanggan, dengan penjualan 70–80 porsi per hari, nyaris 90 persen melalui platform digital. Perkembangan upaya sempat membuatnya membuka dua bagian di Gandul dan Pintu Air. Namun, kondisi pasar nan berubah saat pandemi membikin sebagian bagian ditutup, sehingga dia sekarang konsentrasi pada satu outlet utama, tetap mengandalkan strategi digital.

Dalam operasional sehari-hari, Mas Nur dibantu oleh istri, adik, dan beberapa karyawan. Selain itu, organisasi merchant Grab menjadi sumber support penting.

"Di organisasi ini kami sering saling membantu dan berbagi pengalaman. Ketika ada nan sedang mengalami kesulitan, biasanya teman-teman lain ikut memberikan dukungan. Saya merasa upaya ini tidak bakal bisa berkembang sejauh ini tanpa support komunitas," ujarnya.

Prinsip Mas Nur dalam berupaya adalah amanah dan kejujuran. Menurutnya, meski pengguna tidak memandang langsung proses pembuatan makanan, integritas tetap menjadi perihal utama. Ia percaya, untuk bisa 'naik kelas', seseorang kudu berani mengambil keputusan dan mencoba perihal baru.

"Kalau mau memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis nan tidak pernah melangkah adalah upaya nan tidak pernah dimulai," pesannya.

Kini, dari seorang Mitra Pengemudi nan terbiasa menunggu orderan, Mas Nur telah menjadi pelaku upaya aktif nan menciptakan kesempatan dari rumah sederhana demi masa depan lebih baik bagi keluarganya. (put/E-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia