Tumpukan sampah di TPA Suwung Bali.(Dok. Antara)
DARURAT sampah nasional nan melanda beragam kota besar di Indonesia dinilai dapat ditekan secara signifikan jika pengelolaan sampah dilakukan sejak dari sumbernya, ialah rumah tangga. Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sri Wahyono, menyebut hingga 70 persen sampah sebenarnya bisa diselesaikan tanpa kudu berhujung di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Dalam paparannya, Sri menjelaskan bahwa komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik, terutama sisa makanan. Jika jenis sampah ini dikelola secara berdikari di tingkat rumah tangga, maka sekitar 50 persen beban sampah nasional dapat langsung teratasi.
“Kalau semua rumah tangga menangani sampah makanannya sendiri, sebenarnya masalah sampah sudah berkurang separuh,” ujar Sri dalam aktivitas berjudul Pengelolaan Sampah dan Fasilitasi Kebijakan di Daerah, Kamis (9/4/2026).
Potensi Daur Ulang dan Pengurangan Beban TPA
Selain sampah organik, Sri menambahkan bahwa sekitar 20 persen material sampah lainnya merupakan bahan nan tetap mempunyai nilai ekonomi dan dapat didaur ulang, seperti plastik, kertas, dan logam. Dengan demikian, kombinasi pengelolaan organik dari rumah dan praktik daur ulang berpotensi menahan hingga 70 persen volume sampah agar tidak masuk ke TPA.
Menurutnya, pendekatan hulu ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan teknologi di hilir. Selama ini, banyak pemerintah wilayah tetap berjuntai pada TPA sebagai solusi utama, padahal idealnya akomodasi tersebut hanya diperuntukkan bagi residu alias sampah nan betul-betul tidak bisa diolah lagi.
Tantangan Perubahan Perilaku
Meski teknologi sederhana sudah tersedia, Sri menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada aspek teknis, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat. Minimnya kebiasaan memilah sampah dari sumber tetap menjadi penyebab utama tingginya volume sampah nan menumpuk di TPA.
Di tingkat area dan kota, pengelolaan sampah memang memerlukan teknologi nan lebih kompleks, seperti pengolahan menjadi bahan bakar pengganti alias Refuse Derived Fuel (RDF) hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Namun, Sri mengingatkan bahwa tanpa pemilahan dari hulu, teknologi canggih tersebut tidak bakal bekerja secara optimal.
Kondisi darurat sampah saat ini terlihat nyata di sejumlah kota besar seperti Bandung Raya, Yogyakarta, dan Denpasar nan menghadapi tekanan dahsyat akibat keterbatasan kapabilitas TPA. Oleh lantaran itu, pengelolaan sampah berbasis rumah tangga menjadi kunci utama untuk mengatasi darurat sampah nasional secara berkelanjutan. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·