Dhandy Laksono soal Biaya Pembuatan Film Pesta Babi: Pokoknya Ada

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Sutradara movie dokumenter Dandhy Laksono buka bunyi mengenai sumber biaya pembuatan 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'.

Dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Tribunnews, Dandhy menyebut ada sumber biaya nan digunakan dalam pembuatan movie itu. Ia berseloroh, dia berkuasa hanya menjawab 'pokoknya ada' lantaran tidak mempunyai tanggung jawab atas pajak nan dibayar masyarakat.

"Pokoknya ada. Saya berkuasa tuh ngomong 'pokoknya ada' lantaran saya enggak mempertanggungjawabkan pajak. Ya kan. Lebih bener jika saya ngomong 'pokoknya ada'. Itu sah," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia justru mempertanyakan kenapa inisiatif nan dilakukan oleh masyarakat sipil justru lebih mudah dicurigai mengenai asal-usul pendanaannya.

Padahal, menurut dia, perihal serupa tidak terjadi terhadap asal-usul biaya Pemilu oleh masing-masing kontestan Pilpres hingga biaya Partai Politik untuk bisa membagikan sembako alias membikin konser besar.

"Orang justru lebih curious dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini daripada dari mana sih duit capres untuk pemilu? Dari mana sih duit parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede? Dari mana sih duit jenderal-jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan," tuturnya.

Kendati demikian, Dandhy menekankan bahwa dalam karya jurnalistik, sangat krusial untuk mengungkap dari mana sumber buletin termasuk sumber pendanaannya.

Pasalnya lewat keterbukaan itu publik bisa menilai apakah karya jurnalistik itu independen alias tidak. Oleh karenanya, dia menyebut dalam karya Pesta Babi, publik bisa memandang dengan jelas pihak-pihak nan terlibat melalui logo di poster dan di movie tersebut.

"Semua nama orangnya jelas, temen-temen bisa memandang logo-logo nan ada di poster film. Itulah para kolaborator. Jadi itulah lembaga-lembaga nan patungan untuk membiayai movie ini," jelasnya.

Ia juga menyebut seluruh kru nan terlibat dalam produksi movie bekerja tanpa menerima bayaran. Termasuk dirinya sebagai sutradara, serta Cypri Paju Pale selaku produser hingga director of photography dan videografer.

"Saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videografer, itu enggak ada nan dibayar," katanya.

Dandhy mengatakan corak pendanaan nan dimaksud dalam movie tersebut tidak sebatas nominal duit semata. Melainkan juga dalam corak perangkat ataupun tenaga.

"Jadi itulah urunannya dalam corak orang dan alat, bukan dalam corak duit. Temen-temen nan punya duit, dia nyumbang transport-nya gitu. Tapi enggak ada honor," tuturnya.

"Jadi kami semua bener-bener mengerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan, dan kami percaya bahwa upaya ini justru bakal lebih membikin filmnya passionate," imbuhnya.

Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mempertanyakan asal biaya untuk pembuatan movie dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

"Sekarang permasalahannya, orang sampai membikin video, gimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana? Ya, coba aja, ya kan? Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini terbang sana, orang berharta| lah," kata dia.

(tfq/isn)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional