Tokoh nasional Gerakan Nurani Bangsa Ignatius Kardinal Suharyo( kiri) di dampingi Franz Magnis-Suseno, menyampaikan Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026 di Grha Pemuda, Komplek Katedral Jakarta, Selasa (13/1/2026).(MI/Usman Iskandar.)
SEKOLAH Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD) menggelar Dies Natalis ke-57 dengan tema “Magnis untuk Indonesia”, sebuah rangkaian aktivitas akademik, kebudayaan, dan refleksi publik nan sekaligus menjadi seremoni ulang tahun ke-90 Romo Franz Magnis Suseno, SJ.
Puncak seluruh rangkaian aktivitas bakal berjalan pada 26 Mei 2026 melalui Perayaan Ekaristi di Katedral Jakarta dan dilanjutkan dengan ramah tamah berbareng para alumni, akademisi, tokoh lintas agama, mahasiswa, serta sahabat STF Driyarkara.
Kompleks Gereja Katedral dipilih sebagai tempat Malam Penutup Dies Natalis STFD lantaran secara simbolis selaras dengan tiga sumbangan pemikiran Rm. Magnis nan diangkat menjadi elaborasi tematik Dies Natalis.
Pertama, kontribusi Magnis di bagian etika, sosial politik Indonesia. Pemikiran Magnis sebagai filsuf nan banyak merefleksikan etika dan keberadaannya sebagai rohaniwan katolik jesuit memberikan nuansa unik bagi keterlibatannya di bagian sosial-politik di Indonesia. Di satu sisi, Dies Natalis meneropong realitas dan tantangan bagian sosial politik di Indonesia hari ini dan di sisi lain, menggali pemikiran Rm. Magnis di bagian tersebut melalui makulat politik dan etika nan dikembangkannya.
Graha Pemuda di kompleks Katedral menjadi simbol dari pemikiran Rm. Magnis di bagian etika dan makulat politik serta simbol dari keterlibatan beliau di dinamika sosial-politik di Indonesia. Grha Pemuda semula berjulukan Gedung Katholieke Jongelingenbond (Gedung Pemuda Katolik).
Gedung tersebut turut berkedudukan di dalam proses Sumpah Pemuda lantaran menjadi tempat sidang pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928. Grha Pemuda juga menjadi simbol keterlibatan Magnis bagi susunan intelektual makulat di STFD bagi para pemuda/i nan menjadi mahasiswa di sekolah tersebut. Magnis juga turut berkedudukan pada pendirian STFD. Sampai hari ini, dia tetap terlibat aktif di dalam dinamika kampus.
Kedua, kontribusi Magnis di bagian teologi. Sebagai rohaniwan jesuit, Magnis juga aktif menuliskan refleksi beliau di bagian teologi dan kehidupan menggereja. Selain itu, selama bertahun-tahun beliau menjadi pengampu mata kuliah Filsafat Ketuhanan di STFD. Karena itu, Dies Natalis ini menggali kontribusi unik Magnis di bagian teologi dan eklesiologi Gereja Indonesia pasca Vatican II.
Gereja Katedral menjadi simbol nan tepat bagi kontribusi Magnis di bagian teologi dan eklesiologi. Misa syukur Dies Natalis bakal dirayakan di Gereja Katedral Jakarta nan telah berumur 125 tahun, dihitung dari pemberkatannya pada 21 April 1901. Gereja Katedral menjadi saksi panjangnya kehadiran kekatolikan di Indonesia.
Misa syukur bakal dipimpin oleh Kardinal Ignatius Suharyo nan sekaligus adalah Ketua Pembina Yayasan STF Driyarkara didampingi oleh ketua ordo OFM, Pastor Agustinus Laurentius Nggame, OFM dan ketua ordo Serikat Jesus, Pastor Benedictus Hari Juliawan, SJ. Ketiga lembaga keagamaan Katolik ini, ialah Ordo Serikat Jesus (Jesuit), Ordo OFM (Fransiskan) dan Keuskupan Agung Jakarta lah nan mendirikan STFD 57 tahun nan lalu.
Ketiga, kontribusi Magnis di bagian perbincangan antarumat beragama. Masyarakat Indonesia ditandai oleh beragam keragaman, termasuk salah satunya keragaman kepercayaan dan kepercayaan. Karena itu, Dies Natalis merefleksikan nilai krusial dan tantangan perbincangan antarumat berakidah di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dies Natalis menggali pemikiran-pemikiran filosofis Magnis dan keterlibatan aktif dia dalam beragam forum lintas-agama sebagai sumbangan berfaedah bagi kemajuan perbincangan antarumat beragama.
Terowongan silaturahmi di kompleks Katedral menjadi simbol krusial nan menandai perbincangan antar umat beragama. Terowongan bawah tanah tersebut menghubungkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal. Pada kunjungan apostoliknya ke Indonesia pada 2025, Paus Fransiskus telah mengunjungi terowongan ini dan menandatangani plakat pesan Terowongan Silaturahmi. Paus Fransiskus juga berjumpa dan berbincang dengan Imam Besar Masjid Istiqlal. Momen historis tersebut semakin memperkuat makna simbolis Terowongan Silaturahmi bagi seremoni Dies Natalis STFD.
Perayaan ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kontribusi Magnis bagi Indonesia, terutama dalam bagian filsafat, etika politik, demokrasi, hubungan antaragama, pendidikan, dan kemanusiaan. Selama lebih dari separuh abad, Magnis dikenal sebagai salah satu intelektual publik nan konsisten menyuarakan nilai-nilai etis, dialog, dan keberpihakan pada martabat manusia sekaligus ikut mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini. (RO/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·