Dolar AS Tembus Rp 17.700, BI: Rupiah Melemah 5,5%, Berbeda dengan 1998

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi sorotan. Bank Indonesia (BI) menyampaikan awal tahun ini nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp 16.680-an, tapi saat ini mata duit Garuda telah menyentuh Rp 17.700.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S Budiman menyebut nilai tukar Rupiah telah melemah sekitar 5,5% sejak awal tahun. Kendati mengalami pelemahan, Aida menegaskan situasi hari ini berbeda dengan kondisi krisis moneter pada 1997-1998 silam.

"Apakah kita buruk-buruk banget dengan nilai tukar? Kita mestinya melihatnya, nilai tukar kita ini awal tahun sekitar Rp 16.680-an. Sekarang itu Rp 17.700-an. Memang levelnya terlihat Rp 17.700-an, tapi jika dilihat sebetulnya pelemahannya itu 5,5 persenan," ujar Aida dalam Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia membandingkan dengan tahun 1998 dengan tahun ini, kala itu Rupiah terjun bebas dalam waktu singkat. Namun, Aida memastikan BI tidak mau tak bersuara saja memandang pelemahan 5,5% ini.

"Berbeda dengan tahun 1997-1998. Tahun 1997-1998 itu kita mulai dari Rp 2.300-an tiba-tiba ke Rp 17.000-an. Jadi dengan waktu nan sangat tiba-tiba dan mendadak, sehingga itulah nan dijaga oleh Bank Indonesia. Bukan levelnya, tapi stabilitasnya," tutur Aida.

Pihaknya telah membikin sejumlah kebijakan. Salah satunya, intervensi valas BI dalam jumlah besar di pasar domestik dan pasar luar negeri. Selain itu, BI memastikan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder melangkah baik demi menjaga likuiditas dan menstabilkan nilai SBN agar tidak bergejolak.

"Kemudian, kita juga melakukan pembatasan untuk pembelian Dolar di pasar domestik, jika tidak punya underlying. Kalau ada underlying-nya, boleh-boleh saja," imbuh Aida.

Aida menjelaskan pada prinsipnya, pergerakan nilai tukar mata duit sama seperti peralatan dagangan pada umumnya, ialah sangat berjuntai pada norma permintaan dan penawaran. Secara makroekonomi, salah satu persoalannya dari transaksi melangkah Indonesia nan mencatat rapor merah namalain defisit.

"Kita berbisnis dengan negara lain, lantaran itu kelak ditangkap dalam nan disebut dengan transaksi berjalan. Transaksi melangkah kita tuh nan warna merah. Warna merah artinya defisit. Defisit artinya kita net-nya mengalami kebanyakan bayarnya daripada menerimanya. Nah ini nan menjadi permasalahan," tambah Aida.

Tak hanya itu, Aida menyebut transaksi modal saat ini juga sedang mengalami penurunan. Alhasil, pihaknya kudu mencari langkah agar kembali menarik arus modal asing masuk ke dalam negeri, agar bisa memenuhi tanggungjawab pembayaran ke luar negeri.

"Jadi kita memang kudu menarik gimana arus modal asing tadi masuk ke dalam Indonesia sehingga kita bisa melakukan pemenuhan dari kebutuhan nan kita kudu bayar ke luar negeri," jelas Aida.

(rea/hal)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance