ilustrasi(Antara)
Meningkatnya ketidakpastian dunia dinilai turut mendorong pertumbuhan sektor informal di beragam negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini berpotensi menekan penerimaan pajak serta menghalang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kepala Riset Tim Riset Pembangunan Grup World Bank, Aaditya Mattoo, menyebut sektor informal kerap menjadi “penyangga” ketika ekonomi menghadapi tekanan.
“Sektor informal sering menjadi alas saat terjadi guncangan ekonomi. Namun, ini bukan solusi jangka panjang lantaran produktivitas dan kontribusinya terhadap penerimaan negara terbatas,” ujarnya dalam konvensi pers nan digelar secara daring, Rabu (8/4).
Menurut Aaditya, dalam situasi ketidakpastian, pelaku upaya condong menahan ekspansi dan mengurangi perekrutan tenaga kerja formal. Akibatnya, lebih banyak pekerja terdorong masuk ke sektor informal nan tidak mempunyai kepastian pendapatan maupun perlindungan sosial.
Ia menjelaskan, kekuasaan sektor informal juga berakibat pada pedoman pajak nan lebih sempit, lantaran sebagian besar pelaku di sektor ini tidak terjangkau sistem perpajakan.
“Kondisi ini dapat mengurangi keahlian pemerintah dalam menghimpun penerimaan negara, padahal kebutuhan shopping meningkat untuk merespons krisis,” jelasnya.
Selain itu, pekerja di sektor informal umumnya mempunyai keterbatasan akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan pasar, sehingga susah meningkatkan produktivitas. Aaditya menilai, pemerintah perlu mendorong transisi sektor informal ke umum melalui perbaikan akses pembiayaan, digitalisasi, serta penyederhanaan izin usaha.
“Yang krusial bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi memastikan pekerjaan tersebut produktif dan memberikan kesejahteraan,” tegasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·