Ilustrasi(Dok Gerindra)
ANGGOTA DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti memberikan catatan terhadap jejeran kabinet dan pelaksana kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nan saat ini terjaga tidak bakal berfaedah banyak jika tidak dibarengi dengan kejujuran eksekusi di lapangan.
Azis menyoroti adanya kesenjangan antara angka-angka makro ekonomi nan tampak rapi dengan realitas nan dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput.
"Sudah saatnya kita mengatakan ini dengan terang: jangan ada lagi pembantu presiden dan jajarannya nan berbudi pekerti medioker dan berperilaku ‘asal bapak senang’. Negara ini tidak memerlukan laporan nan bagus di atas kertas, tetapi rentan di lapangan," ujar Azis melalui keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Azis mengapresiasi taklimat Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kerja kabinet di Istana Negara pada 8 April 2026 nan menekankan disiplin anggaran dan keberpihakan pada ekonomi rakyat. Menurutnya, arah kebijakan tersebut sudah sangat tepat, namun tantangan terbesarnya terletak pada karakter penyelenggaraan oleh jejeran di bawahnya.
Ia meminta para menteri dan kepala lembaga untuk lebih berani menyampaikan halangan nyata daripada sekadar menyodorkan nomor keberhasilan nan menenangkan.
"Biasakan menyampaikan kesulitan nan memerlukan terobosan dan koordinasi eksekusi kebijakan, bukan hanya nomor keberhasilan nan menenangkan. Karena hanya dari kejujuran itulah kebijakan bisa diperbaiki," tegas legislator Gerindra tersebut.
Di tengah parameter ekonomi nan kuat seperti persediaan devisa sebesar USD 151,9 miliar dan rasio utang nan terkendali, Azis mengingatkan adanya indikasi pelemahan daya beli pada kelas menengah dan UMKM. Ia mengilustrasikan kondisi ini melalui kejadian di pasar dan warung kecil.
"Ekonomi kita tumbuh dalam angka, tetapi belum sepenuhnya tumbuh dalam rasa. Seorang pemilik warung mungkin tidak membaca laporan fiskal, tetapi dia tahu satu perihal sederhana: pembeli datang, tetapi tidak lagi membeli seperti dulu," ungkapnya.
Selain pertimbangan internal, Azis juga menyoroti maraknya narasi menyesatkan dan hoaks nan menyebut ekonomi nasional sedang runtuh. Menurutnya, kritik memang diperlukan dalam demokrasi, namun kritik nan kehilangan injakan info hanya bakal menggerus kepercayaan publik nan menjadi fondasi investasi.
"Kita memandang klaim bahwa ekonomi runtuh, bahwa negara kehilangan kendali, narasi nan terdengar kuat, tetapi rentan ketika diuji. Hoaks memperkeruhnya, emosi mempercepatnya," tambah Azis.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa stabilitas nan dimiliki Indonesia saat ini hanyalah modal waktu. Transformasi nyata hanya bisa terjadi jika pemerintah mengedepankan kualitas dan kejujuran dalam setiap langkah eksekusi.
"Jika stabilitas tidak diikuti oleh kejujuran dalam eksekusi, maka dia hanya bakal menjadi ketenangan nan menunda masalah," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·