Dubes Iran: Tiongkok hingga Rusia Bisa Jamin Perdamaian Timur Tengah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Tiongkok hingga Rusia Bisa Jamin Perdamaian Timur Tengah Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat.(Anadolu)

DUTA Besar Iran untuk Beijing menyatakan bahwa sejumlah negara besar dan pihak mediator berpotensi memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas kawasan, menyusul pengumuman gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Dalam keterangannya pada Rabu (8/4), Duta Besar Iran untuk Tiongkok, Abdolreza Rahmani Fazli, menyebut bahwa kerjasama internasional diperlukan untuk memastikan bentrok tidak kembali memanas. 

"Kami berambisi beragam pihak dapat menjamin bahwa AS tidak bakal melanjutkan perang," ujarnya kepada wartawan di Beijing.

Ia menambahkan bahwa peran lembaga internasional dan negara-negara berpengaruh sangat krusial dalam menjaga perdamaian. 

"Kami berambisi Dewan Keamanan PBB, negara-negara besar seperti Tiongkok dan Rusia, serta negara-negara mediator seperti Pakistan dan Turki dapat bekerja sama untuk menjamin perdamaian di area tersebut," kata Fazli, seperti dikutip harian South China Morning Post, Rabu (8/4).

Lebih lanjut, Fazli menekankan pentingnya agunan konkret agar kesepakatan nan telah dicapai tidak berkarakter sementara. 

"Kami berambisi perang dapat berakhir dan gencatan senjata dapat berjalan lama, dan kami juga memerlukan agunan nan dapat diandalkan," tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran, nan dimediasi oleh Pakistan, menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. 

Sejumlah negara pun menyambut positif langkah tersebut sebagai kesempatan awal menuju deeskalasi konflik.

Namun demikian, dinamika geopolitik tetap menunjukkan ketegangan. Pada Selasa, Tiongkok dan Rusia memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB nan mengusulkan langkah pertahanan terkoordinasi guna menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Konflik di area meningkat sejak 28 Februari, ketika Israel berbareng Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. 

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, meski otoritas Iran belum memperbarui info korban dalam beberapa hari terakhir.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal nan menyasar Israel serta sejumlah negara di kawasan, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk nan menjadi letak aset militer Amerika Serikat. 

Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dunia dan sektor penerbangan.

Dalam perkembangan lain, sedikitnya 13 tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka selama bentrok berlangsung. (Fer/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia