Ekonom Beberkan Faktor Penentu Rupiah Bisa Menguat Kembali ke Rp 16.000/Dolar AS

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Karyawan menghitung duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menghadapi pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Pada Kamis (28/5) siang, rupiah sempat berada di level Rp 17.905 per dolar AS.

Sementara dalam APBN 2026, pemerintah menyepakati dugaan dasar nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp 16.500 per dolar AS.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, sempat memperkirakan rupiah berkesempatan bergerak mendekati level dugaan APBN pada akhir tahun. Namun, imbas gejolak pasar nan terjadi pada beberapa waktu terakhir, pola rupiah sekarang diperkirakan bakal melemah.

“Namun tekanan nan terjadi sekarang rupanya jauh lebih dalam dibanding perkiraan awal sehingga ruang pemulihannya menjadi semakin terbatas,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan, Kamis (28/5).

Menurutnya, terdapat beberapa aspek nan dapat membantu rupiah kembali menguat. Faktor pertama adalah arah kebijakan suku kembang The Fed. Ia menjelaskan, selama ini dolar AS tetap kuat lantaran bank sentral AS tetap mempertahankan suku kembang tinggi. Apabila nantinya muncul sinyal pemangkasan suku kembang nan lebih jelas pada paruh kedua tahun ini, tekanan terhadap mata duit emerging market termasuk rupiah dinilai dapat mulai berkurang.

Faktor kedua adalah pergerakan nilai minyak dunia. Ia menilai pelemahan rupiah belakangan turut dipicu kenaikan nilai minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Saat nilai minyak naik, kebutuhan impor daya Indonesia ikut meningkat sehingga permintaan dolar AS menjadi lebih besar.

“Kalau tensi geopolitik mereda dan nilai minyak turun, tekanan terhadap rupiah juga bisa ikut berkurang,” ucap Yusuf.

video story embed

Selain itu, Yusuf mengatakan masuknya kembali arus modal asing ke pasar obligasi domestik juga menjadi aspek penting. Menurutnya, pemerintah mulai memandang aliran biaya asing kembali masuk meskipun belum terlalu kuat. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah juga disebut tetap melakukan intervensi terukur melalui pasar obligasi, pengelolaan devisa hasil ekspor, serta beragam langkah stabilisasi lainnya guna menjaga agar pelemahan rupiah tidak bergerak terlalu tajam.

Meski demikian, dia menilai kesempatan rupiah kembali ke bawah level Rp 17.000 per dolar AS saat ini tetap cukup sulit. Ia mengatakan tekanan terbesar justru berasal dari aspek eksternal nan berada di luar kendali pemerintah.

“Pasar tetap memandang The Fed condong mempertahankan suku kembang tinggi lebih lama. Selama selisih suku kembang Indonesia dan Amerika belum cukup menarik, penanammodal dunia bakal lebih nyaman menempatkan biaya mereka di aset berbasis dolar AS,” jelas Yusuf.

Ia juga menyoroti aspek musiman pada paruh kedua tahun ini berupa pembayaran dividen dan repatriasi untung perusahaan asing. Kondisi tersebut dinilai condong meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.

Dari sisi domestik, dia menilai tantangan struktural juga tetap cukup besar. Ketika konsumsi dan investasi meningkat, impor biasanya tumbuh lebih sigap dibanding ekspor. Situasi tersebut dinilai dapat memperlebar defisit transaksi melangkah dan meningkatkan kebutuhan kurs asing.

“Karena itu ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku kembang sebenarnya menjadi terbatas. Jika suku kembang diturunkan terlalu sigap di tengah tekanan kurs, akibat keluarnya modal asing justru bisa semakin besar,” jelasnya.

Selain itu, dia juga menekankan pentingnya aspek kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, selama disiplin anggaran tetap terjaga dan defisit APBN diyakini kondusif di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), tekanan terhadap rupiah biasanya lebih terkendali.

“Sebaliknya, jika muncul keraguan terhadap pengelolaan fiskal alias konsistensi kebijakan ekonomi, pasar bisa merespons negatif dan memicu arus keluar modal. Dalam situasi seperti ini, komunikasi pemerintah menjadi sangat penting,” ujar Yusuf.

Karyawan memperlihatkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Di sisi lain, IRRD Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai proyeksi nilai tukar rupiah tahun ini ketika tetap menghadapi tekanan berat maka diperkirakan bakal berada di level Rp 17.602 per dolar AS.

“Jadi kondisi nilai minyak nan tinggi tersebut membikin penanammodal kelihatannya enggan untuk lama-lama meletakkan aset investasinya di negara emerging market nan mempunyai status sebagai net oil importer,” tutur Myrdal kepada kumparan.

Meski demikian, dia menilai rupiah tetap berkesempatan kembali menguat ke kisaran Rp 16.500 hingga Rp 16.900 per dolar AS sesuai dugaan APBN, dengan sejumlah syarat tertentu. Salah satu syarat utamanya adalah melimpahnya suplai kurs asing domestik, terutama melalui masuknya devisa hasil ekspor sumber daya alam nonmigas ke dalam likuiditas valas domestik. Katanya, hasil ekspor sumber daya alam nonmigas sebaiknya dikonversi 100 persen ke rupiah di dalam negeri.

“Syukur-syukur juga nan hasil ekspor untuk barang-barang nan lain, komoditas lain seperti manufaktur ataupun juga komoditas seperti hasil non-manufaktur nan lain,” ujar Myrdal.

Ia melanjutkan, syarat berikutnya adalah kondisi ekspor Indonesia kudu terus mencatatkan surplus dengan nilai nan cukup besar. Ia menambahkan, surplus perdagangan nan kuat juga perlu diperkuat dengan kondisi sosial politik domestik nan solid. Dengan kondisi tersebut, foreign direct investment (FDI) dinilai berpotensi masuk ke Indonesia dalam jumlah besar.

“Dan nan masuknya itu jumlahnya besar, misalkan per kuartalnya lebih dari 4 miliar USD net-nya FDI-nya. Itu bisa bikin rupiah kembali menguat ke level tersebut,” kata Myrdal.

Selain aspek perdagangan dan investasi, dia juga menilai sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan rupiah. Menurutnya, pemerintah dan lembaga mengenai perlu memperkuat promosi pariwisata Indonesia dengan menonjolkan kondisi sosial politik nan kondusif agar semakin banyak visitor asing datang dan melakukan aktivitas shopping di dalam negeri.

“Dan itu nan bakal membikin rupiah bisa menguat ke level tersebut ke level 16.500 sampai 16.900. Tapi itu syaratnya ya,” ucap Myrdal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan