Fenomena Fake Rich Middle Class: Gaya Hidup Mewah tapi Finansial Rapuh

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Gaya Hidup Mewah tapi Finansial Rapuh Ilustrasi(Freepik)

ISTILAH fake rich middle class alias kelas menengah "kaya semu" sekarang tengah menjadi sorotan hangat di media sosial. Fenomena ini menggambarkan sekelompok masyarakat nan secara kasat mata tampil mapan dengan style hidup glamor, namun sebenarnya berpijak di atas fondasi finansial nan sangat rapuh.

Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr. Tanti Novianti, menjelaskan bahwa kejadian ini merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan kelas menengah di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski pertumbuhan ekonomi dalam dua dasawarsa terakhir sukses memperbesar jumlah kelas menengah, kualitas ketahanan finansial mereka tetap menjadi catatan besar.

Menurut Tanti, Bank Dunia mendefinisikan kelas menengah sebagai golongan nan bisa memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mengakses konsumsi non-esensial seperti rekreasi, pendidikan, dan teknologi. Namun, di kembali daya beli tersebut, muncul anomali nan disebut sebagai fake rich.

Ciri dan Karakteristik Kaya Semu

Kelompok ini biasanya terlihat aktif mengonsumsi peralatan dan jasa nan menjadi simbol status. Namun, kemewahan tersebut sering kali tidak dibarengi dengan kepemilikan aset alias persediaan kas nan memadai.

Aspek Kondisi di Lapangan
Tampilan Luar Memiliki gawai terbaru, sering berlibur, aktif di kafe dan pusat perbelanjaan.
Realitas Finansial Minim tabungan, tidak mempunyai investasi, dan tidak ada perlindungan finansial (asuransi/dana darurat).
Pemicu Utama Lifestyle inflation (kenaikan style hidup mengikuti kenaikan pendapatan) dan kemudahan angsuran konsumsi.

Faktor Pendorong: Dari Psikologis hingga Media Sosial

Tanti memaparkan bahwa kejadian ini dipicu oleh kombinasi aspek ekonomi, sosial, dan psikologis. Salah satu nan paling dominan adalah pola pertumbuhan ekonomi nan lebih mendorong konsumsi daripada pembentukan aset produktif.

"Ketika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami lifestyle inflation. Di sisi lain, akses terhadap angsuran konsumsi seperti kartu kredit, angsuran kendaraan, hingga jasa pay-later semakin mudah," jelasnya.

Selain itu, tekanan sosial di lingkungan urban nan kompetitif membikin konsumsi menjadi simbol status. Hal ini sejalan dengan teori conspicuous consumption dari Thorstein Veblen, di mana konsumsi dilakukan demi menunjukkan prestise, bukan sekadar memenuhi kebutuhan.

Di era digital, media sosial memperparah kondisi ini melalui demonstration effect. Standar kesuksesan nan ditampilkan di platform digital memicu perseorangan untuk meniru style hidup golongan nan dianggap lebih tinggi statusnya demi mendapatkan pengakuan sosial.

Catatan Penting: Rendahnya literasi finansial membikin banyak orang tidak memahami pentingnya biaya darurat dan pengelolaan utang, sehingga peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan jangka panjang.

Membangun Fondasi nan Kokoh

Sebagai penutup, Tanti menekankan bahwa penguatan kelas menengah memerlukan perubahan paradigma. Kesejahteraan nan berkepanjangan tidak bisa hanya diukur dari seberapa besar keahlian seseorang untuk berbelanja.

"Kelas menengah nan kuat bukan hanya ditandai oleh keahlian konsumsi, tetapi juga keahlian membangun aset, mengelola risiko, dan menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang," pungkasnya. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia