Fenomena YouTube Marapthon: Ketika Ruang Digital Jadi "Kamar Kos Bersama"

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Personel dari Marapthon. Foto: Instagram/ @weareaaaclan

Bayangkan sebuah situasi di mana Anda masuk ke sebuah ruangan berukuran 3x4 meter. Di dalamnya, seorang kawan sedang enak-enak bermain gim, sesekali merebahkan diri di kasur, makan mi instan langsung dari pancinya, alias apalagi tertidur pulas selama tiga jam dengan lampu bilik tetap menyala. Anda berada di sana, duduk di pojokan, memperhatikannya tanpa merasa canggung. Kadang, Anda mengobrol santuy dengan orang lain nan juga sedang berjamu di ruangan itu.

Di bumi fisik, skenario ini adalah potret unik kehidupan anak kos. Namun di era digital saat ini, ruang intim tersebut telah beranjak ke layar berjulukan YouTube melalui kejadian Marapthon live streaming.

Ketika seorang pembuat melakukan siaran langsung selama 24 jam, 48 jam, apalagi berhari-hari tanpa interupsi, kita sedang tidak sekadar menyaksikan sebuah siaran. Kita sedang memandang sebuah penelitian radikal tentang gimana ruang privat dirobohkan dan gimana komunikasi digital beralih bentuk menjadi sebuah "kamar kos bersama" berskala global.

Secara tradisional, media penyiaran didesain dengan konsep ruang nan kaku. Ada studio sebagai ruang produksi nan sakral dan terkurasi, serta ada ruang family penonton sebagai tempat konsumsi. Namun, Marapthon live streaming menghancurkan pemisah tersebut.

Ilustrasi menonton Streaming. Foto: Getty Images

Lompatan budaya ini sejalan dengan apa nan sempat digelisahkan oleh sosiolog Joshua Meyrowitz. Ia memandang bahwa media elektronik mempunyai keahlian magis untuk mencampuradukan panggung depan (front stage), di mana tempat manusia dengan topeng performa terbaiknya dan panggung belakang (back stage), tempat manusia menjadi dirinya sendiri nan rapuh, capek dan berantakan.

Dalam YouTube Marapthon, panggung belakang itulah justru menjadi jualan utamanya. Ketika lama siaran menembus nomor belasan jam, pembuat tidak mungkin mempertahankan akting alias pesona panggung mereka. Rasa lelah, kantuk, keheningan nan canggung saat tidak ada topik pembicaraan, hingga momen-momen tanpa perbincangan saat pembuat tertidur adalah corak komunikasi tersendiri.

Di sinilah letak novelty-nya: audiens menetap di dalam live stream bukan lagi lantaran kelaparan bakal konten alias info nan padat, melainkan lantaran mereka mencari rasa "menemani" dan "ditemani" di tengah potret masyarakat modern nan makin terisolasi.

Ekologi Media Baru: Menghuni YouTube, bukan Sekadar Menonton

Mengapa penonton nyaman berlama-lama di dalam tayangan nan sering kali tidak terjadi apa-apa ini? Jawabannya terletak pada gimana platform digital telah berevolusi menjadi sebuah habitat. Jika kita meminjam kacamata Marshall McLuhan nan masyhur dengan jargonnya "the medium is the message", media bukan sekadar saluran untuk menyalurkan pesan saja, melainkan juga sebuah lingkungan hidup (environment) nan membentuk langkah kita berperilaku.

Ilustrasi YouTube. Foto: Shutterstock

YouTube dalam konteks maraton streaming telah beranjak kegunaan dari platform pemutar video menjadi sebuah arsitektur ruang hidup digital. Durasi nan tanpa jarak menciptakan ilusi waktu nan melangkah setara antara bumi nyata penonton dan bumi digital kreator.

Ketika waktu biologis penonton (misalnya waktu subuh di Indonesia) bertepatan dengan momen pembuat di layar sedang terkantuk-kantuk mempertahankan kesadaran, tercipta sebuah shared reality (realitas bersama). YouTube tidak lagi dikonsumsi secara sekelebat layaknya TikTok Shorts, tetapi "dihuni". Media ini menjadi background noise kehidupan sehari-hari penonton, persis seperti radio di masa lalu, tetapi dengan dimensi visual dan hubungan sosial nan jauh lebih intens.

Kolom Chat sebagai Selasar Kos: Ruang Keterikatan Sosial nan Kuat

Kekuatan organisasi dalam kejadian ini tidak lahir dari atas ke bawah (top-down) oleh petunjuk kreator, tetapi tumbuh secara organik dari bawah (bottom-up) di kolom komentar langsung. Selama puluhan jam siaran, penonton nan awalnya saling tidak kenal mulai berganti pesan. Durasi nan panjang memungkinkan terjadinya proses sharing fantasies, pembagian lelucon internal, semboyan khas, hingga drama-drama mini nan hanya dipahami oleh mereka nan begadang di live tersebut.

Sebagai contoh, munculnya istilah-istilah buatan netizen untuk merespons perilaku pembuat nan mulai mengigau lantaran kurang tidur, alias aktivitas kolektif para penonton untuk saling mengingatkan makan di kolom chat. Rantai khayalan ini membangun kesadaran golongan nan sangat solid. Kolom chat beralih bentuk fungsi, dari sekadar ruang memberikan umpan kembali menjadi "selasar bilik kos", tempat para penghuninya berkumpul, merokok virtual, serta bergosip dan menjaga satu sama lain agar tidak merasa kesepian.

Sisi Bisnis di Balik "Kamar Kos Digital"

Personel dari Marapthon. Foto: Instagram/ @weareaaaclan

Tentu saja, kita tidak boleh naif memandang kejadian ini murni sebagai ruang utopia sosial nan romantis. Di kembali kehangatan "kamar kos bersama" ini, ada mesin ekonomi nan bekerja tanpa henti. Ekstensi ruang privat dan kelelahan bentuk pembuat diproduksi secara sengaja sebagai umpan dalam attention economy.

Setiap detik keintiman dan rasa rentan nan diperlihatkan di layar dikonversi secara presisi menjadi metrik algoritma, dorongan fitur saweran, hingga berlangganan membership bulanan. Rasa nyaman dan emosi "ditemani" ini, suka alias tidak, telah menjadi peralatan dagangan baru nan laku keras di internet.

Namun, terlepas dari motif transaksionalnya, strategi komodifikasi keintiman ini sukses justru lantaran dia menyentuh titik paling rentan manusia modern, ialah kerinduan bakal hubungan nan otentik dan jujur. Di tengah media sosial nan penuh kepura-puraan, editan penipu, dan filter estetika, memandang seorang nan tampil lelah, berantakan, dan apa adanya di YouTube Marapthon justru terasa sangat menyegarkan, nyata dan manusiawi.

Pada akhirnya, kejadian ini adalah refleksi dari arah komunikasi digital kita hari ini. Ia bukan lagi sekadar perangkat untuk berganti pesan, melainkan juga sebuah ruang arsitektural baru. Sebuah bilik kos digital tanpa kunci, di mana siapa saja nan merasa terasing di luar sana bisa mengetuk pintu, masuk, duduk di pojokan layar, dan merasa bahwa mereka akhirnya mempunyai tempat untuk pulang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan