Ilustrasi(Dok Istimewa)
KEPALA SMA Kolese Gonzaga, Pater Eduard C. Ratu Dopo menjelaskan, SMA Kolese Gonzaga menggelar aktivitas ilmiah berjudul Gonzaga Reflective Learning Experiences Exhibitions (G-Reflex) di Pejaten Barat, Jakarta Selatan, 7-10 April 2026.
G-Reflex adalah puncak pengalaman belajar dalam ujian praktik semua siswa kelas 12 nan bakal menyelesaikan proses belajar mereka di Kolese Gonzaga pada Tahun Ajaran 2025-2026.
Dalam G-Reflex, para siswa kelas 12 bakal mempresentasikan karya ilmiahnya dalam 89 golongan dengan topik beragam, ialah STEAM, IoT, science and social.
Dalam aktivitas ini para siswa bakal mempresentasikan hasil penelitian ilmiah mereka di hadapan audiens nan terdiri atas pembimbing penguji, akademisi dari beragam universitas seperti Prof Dr Ir Richardus Eko Indrajit, Avanti Fontana, Ph.D., Reza Wattimena, Ph.D., Pater Dr. Baskara T. Wardaya SJ, Pater Dr. J Haryatmoko, SJ, Peter John, S.Si, M.Si dan tokoh lain.
Tidak ketinggalan, orang tua siswa, lampau para siswa dari beberapa SMA lain nan diundang, dan juga para siswa Kolese Gonzaga sendiri.
Audiens bakal berkedudukan sebagai penanggap kritis dalam proses presentasi tersebut. Selain presentasi, aktivitas G-Reflex juga mempersembahkan pameran hasil karya ilmiah siswa nan disajikan dalam corak poster infografis hasil penelitian, Roda Ilmu Pengetahuan, Business Model Canvas sebagai konsep kerangka penelitian dan prototype dari penelitian dengan topik STEAM. Pameran tersebut bisa disaksikan langsung di lobi sekolah dan sekitarnya.
"Kegiatan Gonzaga Reflective Learning Experience Exhibitions merupakan tradisi ilmiah nan dirancang sebagai budaya sekolah sebagai best practices dengan pendekatan pendidikan nan berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian nan menjadikan aktivitas refleksi sebagai pusat proses pembelajaran nan berarti alias meaningful learning,” jelas Pater Eduard.
Kegiatan penelitian ilmiah dengan beragam tema, pada akhirnya bakal bermuara pada upaya menemukan makna bagi kehidupan, baik secara individual maupun komunal.
Pepatah latin Vita Sine Litteris Mors Est nan mempunyai makna hidup tanpa referensi adalah meninggal membawa siswa semakin giat dalam pembelajaran nan lebih mendalam namalain deep learning.
Ungkapan ini menekankan, pengetahuan pengetahuan (litteris) merupakan perihal nan sangat esensial dalam kehidupan manusia dalam mengolah literasi dan numerasi. “Orang nan belajar bakal bisa berpikir kritis, berkembang sebagai pribadi nan utuh dan bisa memahami dunia,” kata Pater Eduard.
Tanpa belajar, sesungguhnya orang tidak bakal ‘hidup’ secara utuh. Dengan demikian pembelajaran nan diselenggarakan di Kolese Gonzaga menjadi semakin relevan dengan realita nan dihadapi oleh siswa dalam keseharian hidup mereka.
Di SMA Kolese Gonzaga, para siswa dilatih untuk menemukan konektivitas antara beragam bagian studi nan mereka pelajari, mendalami konsep, menemukan makna dan menghasilkan produk berupa jurnal ilmiah dan fasih menyampaikannya kepada masyarakat (eloquentia perfecta).
Meski di tengah bujukan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam mengerjakan seluruh karya ilmiah tetapi sekolah terus mendorong dan mengontrol siswa mengasah keahlian diri mereka (Human Intelligence).
“Sehingga lewat aktivitas ini para siswa dapat memahami beragam bagian studi nan dipelajari secara integral, utuh, dan bermakna. Siswa belajar bukan untuk sekolah dan mendapat piagam semata tetapi untuk hidup nan lebih berarti dalam semangat Ad Maiorem Dei Gloriam,” jelas Pater Eduard. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·