Gelombang PHK Massal, KSPI Ungkap Imbas Inflasi Harga Minyak dan Rupiah Melemahamp;nbsp;

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Minggu, 24 Mei 2026 |17:29 WIB

Gelombang PHK Massal, KSPI Ungkap Imbas Inflasi Harga Minyak dan Rupiah Melemah 

Buruh (Foto: Okezone)

JAKARTA - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menekankan dua persoalan besar nan saat ini menakut-nakuti masa depan pekerja Indonesia, ialah meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan diberlakukannya Permenaker No. 7 Tahun 2026 nan semakin memperluas praktik outsourcing.

Wakil Presiden KSPI, Kahar S. Cahyono, memaparkan bahwa peringatan awal nan sempat dilontarkan organisasinya mengenai akibat ketidakpastian ekonomi dunia sekarang telah terbukti di lapangan.

“Beberapa waktu lampau kami sudah mengingatkan bahwa di bawah bayang-bayang perang dan ketidakpastian ekonomi global, Indonesia menghadapi ancaman PHK besar-besaran. Saat itu kami memperkirakan dalam tiga bulan ke depan bakal terjadi PHK terhadap sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan. Hari ini, ancaman itu bukan lagi prediksi. Gelombang PHK sudah nyata terjadi,” kata Kahar dalam keterangan resmi nan diterima pada Minggu (24/5/2026).

Berdasarkan catatan KSPI, sejumlah industri di wilayah Serang seperti PT Nikomas Gemilang, PT Parkland World Indonesia 2, dan PT Sinhwa Bis telah memangkas ratusan tenaga kerja pada Mei 2026. Di Jawa Timur, laporan serupa muncul dari jaringan bengkel serta showroom Toyota Asri Motor nan dilaporkan melakukan efisiensi terhadap sekitar 200 karyawannya.

Situasi ini semakin diperparah dengan info Kementerian Ketenagakerjaan nan menunjukkan nomor PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026. Jumlah tersebut mencatatkan lonjakan tajam sebesar 83,9 persen jika disandingkan dengan realisasi info pada periode Januari–Maret 2026 nan berjumlah 8.389 orang.

KSPI mengidentifikasi bahwa tekanan biaya produksi akibat kenaikan nilai bahan bakar industri dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi pemicu utama kejadian ini. Kondisi tersebut memaksa perusahaan mengambil langkah instan guna menjaga stabilitas finansial internal mereka.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑