Gempa M6,3 Guncang Yogyakarta-6.234 Orang Tewas, Terbesar ke-2 di RI

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pagi itu, Ningsih sudah terjaga sebelum mentari betul-betul muncul di ufuk timur. Namun lantaran kuliah baru dimulai pukul tujuh, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta Yogyakarta itu memilih bersantai sejenak di atas kasur.

Sayang, niat bermalas-malasan itu tak kesampaian karena tepat pukul 05.54 WIB, guncangan dahsyat tiba-tiba menggoyang gedung kos tempatnya tinggal.

"Lagi goler-goleran, tiba-tiba goyang hebat. Badan kepontang-panting kencang," kata Ningsih kepada CNBC Indonesia, Selasa (26/5/2026), mengenang gempa Yogyakarta tepat hari ini 20 tahun lalu.

Ningsih pun langsung berceceran keluar berbareng penunggu kos lainnya. Namun, sebelum sempat memahami apa nan sebenarnya terjadi, berita nan lebih mengerikan mulai beredar dari mulut ke mulut. Tsunami bakal menggulung Yogyakarta dari selatan Jawa. 

Saat itu, ingatan masyarakat Indonesia tetap dibayangi tragedi tsunami Aceh nan terjadi dua tahun sebelumnya. Atas dasar itu, berita tersebut dengan sigap dipercaya banyak orang meski belum terbukti benar.

Akibatnya, kepanikan menyebar jauh lebih sigap dibandingkan info resmi. Ribuan penduduk beramai-ramai meninggalkan rumah dan kos-kosan untuk mencari tempat nan dianggap lebih aman. Bagi Ningsih, pemandangan pagi itu menjadi salah satu kepanikan massal terbesar nan pernah dia saksikan.

"Di situ saya saksi mata, mobil sedan mini bisa diisi sampai 12 orang. Saking paniknya karena ada info tsunami, orang sebanyak itu bisa masuk ke mobil nan biasanya hanya muat empat alias lima penumpang," kenangnya.

Dalam kepanikan nan melanda pagi itu, Ningsih bersama teman-tema sekos hanya membawa busana nan dikenakannya. Dia bergegas meninggalkan kos di area Gejayan dan mengikuti arus penduduk nan bergerak ke arah utara. Tanpa sadar, dia telah berlari belasan kilometer hingga mencapai persimpangan Kaliurang.

Ningsih berbareng teman-temannya kemudian ikut menumpang motor penduduk nan dilanda panik, ikut menanjak hingga mencapai desa nan lebih tinggi di area Kaliurang.

Namun, sesampainya di situ, ketakutan penduduk belum juga reda. Muncul berita bahwa Gunung Merapi mengalami erupsi. Informasi itu semakin memperbesar kepanikan nan telah lebih dulu dipicu oleh gempa dan rumor tsunami nan belakangan terbukti salah. 

Demikianlah suasana nan menyelimuti Yogyakarta tepat 20 tahun lalu. Pada 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,3 mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Pusat gempa berada di wilayah Bantul, tepatnya di sekitar pertemuan Sungai Opak dan Sungai Oya.

Para peneliti belakangan mengonfirmasi gempa tersebut berangkaian dengan aktivitas Sesar Opak dan aktivitas tektonik di area tumbukan antara dua lempeng besar di Selatan Jawa, ialah Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Menurut tesis dari ITB berjudul "Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 dan Paleosesimologi Sesar Opak" (2007), sesar Opak sendiri merupakan sesar geser mengiri (sinistral strike-slip fault) nan memanjang dengan arah barat daya-timur laut. Meski telah lama dikenal sebagai struktur pengetahuan bumi aktif, aktivitasnya tidak banyak terlihat dalam kurun waktu nan panjang sebelum akhirnya kembali melepaskan daya besar pada 27 Mei 2006. Ini menjadikannya sebagai gempa terbesar kedua di Indonesia setelah Gempa Samudera Hindia nan memicu Tsunami Aceh 2004. 

Setelah gempa utama nan terjadi pada pukul 05.54 WIB itu, wilayah Yogyakarta tetap diguncang ratusan gempa susulan. Kekuatan guncangan memang terus melemah, tetapi cukup untuk menambah kepanikan penduduk nan tetap berupaya menyelamatkan diri. Dalam satu hari setelah gempa utama, tercatat sedikitnya 176 gempa susulan nan dapat dirasakan masyarakat.

Dampak musibah tersebut sangat besar. Mengutip info Departemen Sosial nan dihimpun detikcom, jumlah korban meninggal akibat gempa Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 6.234 jiwa. Selain itu, terdapat 33.231 korban luka berat dan 12.917 korban luka ringan.

Kerusakan bentuk nan ditimbulkan juga sangat masif. Lebih dari 109.000 gedung tercatat rusak berat hingga hancur total. Sementara itu, sekitar 301.000 gedung lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat nan bervariasi. Mulai dari ringan, sedang, hingga berat.

Bagi masyarakat Yogyakarta, gempa 27 Mei 2006 bukan sekadar musibah alam, melainkan tragedi nan mengubah kehidupan ribuan family dalam sekejap. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat pentingnya kesiap-siagaan dan literasi kebencanaan bagi masyarakat nan hidup di area aktif tektonik seperti Indonesia.

(mfa/mfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News