Gencatan Senjata Amerika Serikat–Iran, Negara-Negara di Eurasia Serukan Dialog

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Gencatan Senjata Amerika Serikat–Iran, Negara-Negara di Eurasia Serukan Dialog bendera Iran dan AS(X)

SEJUMLAH negara di area Eurasia pada Rabu (8/4) menyambut positif pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran, dengan angan kesepakatan tersebut dapat meredakan ketegangan dan membuka jalan menuju stabilitas jangka panjang.

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan dalam pernyataannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap upaya beragam pihak nan terlibat dalam proses mediasi.

Baku menyebut pihaknya sangat menghargai langkah tersebut dan berambisi kesepakatan ini dapat membantu menurunkan eskalasi bentrok sekaligus membangun perdamaian dan stabilitas nan langgeng.

"Kami menyerukan kepada para pihak untuk terlibat dalam dialog konstruktif nan bermaksud untuk menyelesaikan masalah nan ada dan membangun kepercayaan bersama. Azerbaijan tetap siap untuk mendukung inisiatif nan bermaksud untuk memperkuat perdamaian, keamanan, dan kerja sama nan langgeng di area ini," demikian pernyataan tersebut dikutip Anadolu, Rabu (8/4).

Dukungan serupa datang dari Ukraina. Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha melalui platform X menyatakan bahwa Kyiv menyambut baik kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan peran mediasi Pakistan.

"Ketegasan Amerika berhasil. Kami percaya sudah saatnya untuk ketegasan nan cukup untuk memaksa Moskow untuk menghentikan tembakan dan mengakhiri perangnya melawan Ukraina," ujarnya.

Sementara itu, Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, juga menyampaikan dukungannya. Dalam keterangan nan disampaikan ahli bicara kepresidenan, Aibek Smadiyarov, disebutkan bahwa kesepakatan tersebut terwujud berkah itikad baik dan kebijaksanaan Presiden AS Donald Trump serta ketua Iran, berbareng kontribusi negara-negara lain nan terlibat.

"Kepala negara menyatakan angan bakal sifat jangka panjang dari perjanjian gencatan senjata, nan bermaksud untuk mengembangkan perdagangan dunia dan mempromosikan kemakmuran ekonomi bagi semua negara," ujar Smadiyarov.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Tajikistan menegaskan bahwa penyelesaian bentrok tidak dapat dicapai melalui jalur militer. Pemerintah di Dushanbe berambisi negosiasi lanjutan bisa menghasilkan perdamaian nan menyeluruh dan berkepanjangan di kawasan.

"Kami percaya bahwa tidak ada solusi militer untuk bentrok ini dan bahwa kelanjutannya hanya bakal semakin memperburuk situasi nan sudah kompleks di Timur Tengah dan bakal menyebabkan kerusakan besar bagi semua negara di area tersebut," demikian pernyataan resmi tersebut, seraya menyerukan penahanan diri dan pendekatan diplomatik.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa dia sepakat untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu, sebagai bagian dari upaya membuka ruang dialog.

Pengumuman ini disampaikan menjelang tenggat waktu nan diberikan Washington kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Ketegangan di area meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat berbareng Israel melancarkan serangan terhadap Iran nan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan jawaban menggunakan drone dan rudal nan menargetkan Israel serta sejumlah negara lain seperti Jordania, Irak, dan negara-negara Teluk nan menjadi letak aset militer Amerika Serikat.

Selain itu, Teheran juga sempat membatasi lampau lintas kapal di Selat Hormuz, nan merupakan jalur vital perdagangan daya global. (Fer/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia