Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal usai Serangan Israel

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal usai Serangan Israel Ilustrasi.(Al Jazeera)

GENCATAN senjata sementara selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat berada dalam situasi genting pada Rabu (8/4), setelah Teheran mengisyaratkan kemungkinan kembali ke bentrok di tengah serangan besar-besaran Israel ke wilayah Libanon.

Baik Washington maupun Teheran sebelumnya sama-sama mengeklaim keberhasilan setelah menyepakati penghentian sementara permusuhan dan memulai jalur negosiasi guna mengakhiri bentrok nan telah menewaskan ribuan orang di Timur Tengah serta mengguncang ekonomi global.

Namun, ketegangan kembali meningkat ketika Israel melancarkan salah satu serangan paling intens ke Libanon, termasuk di area padat masyarakat di ibu kota Beirut. Serangan ini terjadi sejak golongan nan didukung Iran, Hizbullah, terlibat dalam bentrok pada awal Maret.

Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan sedikitnya 182 orang tewas dan nyaris 900 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan pada hari tersebut.

Israel menegaskan bahwa operasinya terhadap Hizbullah tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance, nan dijadwalkan memimpin pembicaraan dengan Teheran di Pakistan dalam waktu dekat.

"Jika Iran mau membiarkan negosiasi ini kandas lantaran Lebanon, nan tidak ada hubungannya dengan mereka, dan nan tidak pernah sekali pun dikatakan Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka," katanya dikutip Al Jazeera, Kamis (9/4).

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengisyaratkan ancaman terhadap kelangsungan kesepakatan. Ia menulis di platform X bahwa dasar nan dapat digunakan untuk bermusyawarah telah dilanggar, sehingga pembicaraan lanjutan menjadi tidak masuk akal.

Seorang pejabat senior AS juga menyebut bahwa rencana 10 poin nan diajukan Iran tidak sepenuhnya sejalan dengan kerangka nan disetujui Gedung Putih, menambah ketidakpastian terhadap masa depan gencatan senjata.

Di Libanon, situasi kemanusiaan memburuk. Kepala HAM PBB Volker Turk menyebut skala kekerasan sebagai mengerikan. Serangan tanpa peringatan di beragam wilayah Beirut memicu kepanikan warga.

"Orang-orang mulai berlari ke kiri dan ke kanan, dan asap mengepul," kata Ali Younes, seorang penduduk nan berada di dekat Corniche al-Mazraa saat serangan terjadi.

Sejak eskalasi bentrok bulan lalu, lebih dari 1.700 orang dilaporkan tewas di Libanon akibat serangan udara dan operasi darat Israel.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bakal memenuhi tugas mereka dan memberikan tanggapan jika serangan Israel tidak dihentikan. Hezbollah juga menegaskan mempunyai kewenangan untuk melakukan pembalasan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya tetap siap menghadapi Iran dan menegaskan tetap ada tujuan nan kudu diselesaikan, termasuk upaya melucuti senjata Hizbullah.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pasukan Amerika tetap dalam kondisi siaga jika bentrok kembali meningkat.

Pembicaraan Berisiko Tinggi

Ketegangan meningkat menjelang pembicaraan krusial nan dijadwalkan berjalan di Pakistan pada Jumat. 

Sebelumnya, Iran sempat menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah tekanan dari Presiden AS Donald Trump, memungkinkan kapal-kapal melintas pada Rabu.

Namun, laporan terbaru menyebut jalur strategis tersebut kembali ditutup pada hari nan sama, memicu reaksi keras dari Gedung Putih.

"Penutupan apa pun sama sekali tidak dapat diterima," tegas Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, nan berkedudukan sebagai mediator, mendesak semua pihak untuk menahan diri. Ia menyerukan melalui X agar semua pihak menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua minggu demi memberi ruang bagi diplomasi.

Di tengah situasi tersebut, media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan rudal dan drone baru ke negara-negara Teluk nan berkawan dengan AS sebagai respons atas serangan terhadap akomodasi energinya.

Kuwait melaporkan kerusakan pada akomodasi minyak, pembangkit listrik, dan instalasi desalinasi akibat gelombang serangan intensif. 

Uni Emirat Arab menyebut telah menjadi sasaran 17 rudal dan 35 drone, sementara Arab Saudi mengaku sukses mencegat sembilan drone. Bahrain juga melaporkan serangan di ibu kota Manama.

Harapan Nyata

Sejumlah pemimpin Eropa, berbareng Kanada dan Inggris, menyerukan pengakhiran perang nan sigap dan langgeng melalui jalur negosiasi. Sementara itu, Paus Leo menyebut momen ini sebagai angan nyata.

Meski demikian, perbedaan mendasar antara Iran dan Amerika Serikat tetap menjadi halangan utama. Teheran tetap bersikeras pada rumor pengayaan uranium, pencabutan hukuman ekonomi, serta kendali atas Selat Hormuz ialah jalur strategis nan dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sebaliknya, AS dan Israel menyatakan bahwa operasi militer mereka bermaksud melemahkan keahlian militer Iran.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar dunia sempat merespons positif. Harga minyak turun hingga 15%, sementara nilai gas alam di Eropa merosot sekitar 20% setelah pengumuman gencatan senjata.

Trump menyatakan bahwa Washington telah sudah sangat jauh dalam upaya mencapai kesepakatan jangka panjang, merujuk pada proposal 10 poin dari Iran nan disebutnya dapat dilaksanakan.

Namun, Ghalibaf menyoroti tiga dugaan pelanggaran oleh AS, ialah serangan berkepanjangan di Libanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan terhadap kewenangan pengayaan uranium, nan semakin memperlemah prospek keberlanjutan gencatan senjata.

Di Teheran, suasana kota tampak lebih lengang dari biasanya. Banyak toko tutup setelah malam nan dipenuhi kekhawatiran bakal kemungkinan serangan besar.

"Semua orang merasa tenang sekarang," ujar Sakineh Mohammadi, seorang ibu rumah tangga berumur 50 tahun. Ia menambahkan bahwa dirinya merasa bangga terhadap negaranya.

"Kami lebih santai," pungkasnya. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia