Haji 2026 Wujudkan Pelayanan Inklusif Ramah Lansia, Difabel, Perempuan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Haji 2026 Wujudkan Pelayanan Inklusif Ramah Lansia, Difabel, Perempuan Petugas membantu memasang gelang haji kepada calon haji lansia Embarkasi Padang di Asrama Haji Tabing, Padang, Sumatra Barat, Kamis (23/4/2026).(Antara/Fitra Yogi)

IBADAH haji merupakan rukun Islam kelima nan menuntut kesiapan komprehensif, mulai dari aspek finansial hingga kesiapan mental dan bentuk nan prima. Namun, realitas masa tunggu nan mencapai 10 hingga 15 tahun secara signifikan berimplikasi pada profil jemaah nan didominasi oleh usia lanjut dengan kondisi bentuk nan tidak lagi bugar.

Pada penyelenggaraan Haji 2026, info menunjukkan tantangan besar bagi pemerintah. Berdasarkan info Kementerian Haji (Kemenhaj), jumlah jemaah haji Indonesia nan masuk kategori Risiko Tinggi (Risti) secara kesehatan mencapai sekitar 170.000 orang. Dari total tersebut, diperkirakan terdapat 44.000 jemaah lanjut usia (lansia), dengan 33.000 di antaranya berumur di atas 65 tahun. Angka ini menegaskan bahwa pelayanan ekstra bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjamin seluruh rukun dan wajib haji dapat tertunaikan dengan aman.

"Penyelenggaraan haji bukan sekadar manajemen keberangkatan, melainkan upaya memastikan setiap jemaah mendapatkan pelayanan nan manusiawi dan bermartabat. Fokus unik pada lansia, penyandang difabel, dan wanita menjadi krusial lantaran kerentanan mereka terhadap halangan bentuk dan aksesibilitas. Haji nan inklusif adalah corak nyata dari pelayanan publik nan adil," papar Umaimah Wahid, Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur dan Ketua Muslimat Al Washliyah, dalam keterangannya, Sabtu (16/5).

Umaimah menambahkan bahwa semangat ini selaras dengan prinsip Islam nan memudahkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa kepercayaan itu mudah (HR. Bukhari). Dalam konteks modern, prinsip ini diwujudkan melalui kebijakan dan akomodasi nan empatik.

Tiga Pilar Kebijakan Haji 2026:

  • Kuota Prioritas Lansia: Alokasi unik sebesar lima persen dari kuota nasional sebagai corak afirmasi bagi mereka nan telah lama mengantre.
  • Fasilitas Ramah Difabel: Penyediaan bangku roda, jalur prioritas, serta training unik bagi petugas pendamping.
  • Layanan Responsif Gender: Penambahan petugas wanita untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik jemaah perempuan, terutama lansia.

Urgensi Pelayanan Khusus bagi Kelompok Rentan

Mengapa pelayanan unik ini menjadi prioritas? "Pertama, tren peningkatan jemaah berkebutuhan unik menuntut standar jasa nan melampaui prosedur umum. Kedua, Kemenhaj berkomitmen memuliakan jemaah sebagai tamu Allah melalui prioritas layanan. Ketiga, meski memberikan kemudahan, pemerintah tetap mengedepankan prinsip istitha’ah (kemampuan) kesehatan agar ibadah tetap aman," tuturnya nan juga menjadi Musrif Diny Haji 2026

Lansia seringkali menghadapi keterbatasan mobilitas, sementara penyandang difabel memerlukan aksesibilitas perangkat bantu nan memadai. Di sisi lain, jemaah wanita memerlukan pengaturan nan lebih sensitif mengenai pendampingan dan keamanan. Oleh lantaran itu, Kemenhaj mengintegrasikan info kesehatan sejak dini, melakukan training petugas spesialis, hingga berkoordinasi intensif dengan otoritas Arab Saudi.

Komitmen Perlindungan tanpa Kecuali

Direktur Bina Jemaah Haji Reguler Kemenhaj, Afief Mundzir, menegaskan komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan menyeluruh. Salah satu program unggulan nan diprioritaskan bagi jemaah dengan keterbatasan (lansia, risti, difabel, dan obesitas) adalah skema Murur dan Tanazul.

Skema ini dirancang untuk memberikan perlindungan maksimal dan kemudahan pergerakan bagi jemaah nan mempunyai halangan fisik, sehingga mereka tetap dapat menjalankan inti ibadah tanpa kudu memaksakan kondisi bentuk nan berisiko.

Haji nan ramah lansia, difabel, dan wanita merupakan bentuk nyata penghormatan terhadap martabat manusia. Kebijakan inklusif ini membuktikan bahwa negara datang untuk melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dengan landasan nilai-nilai Islam, pelayanan ini diharapkan bisa menghantarkan jemaah meraih predikat haji mabrur dalam suasana nan nyaman, terlindungi, dan menggembirakan. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia