Harapan di Tengah Distraksi Kebangsaan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Harapan  di Tengah Distraksi Kebangsaan Max Regus Uskup Labuan Bajo Guru Besar Sosiologi Agama Unika Santu Paulus Ruteng, Flores(MI/Seno)

PERAYAAN Kenaikan Yesus pada hakikatnya membawa makna spiritual nan mendalam tentang harapan, arah, dan masa depan manusia. Sebuah rayuan melampaui keterperangkapan keputusasaan.

Pesan ini terasa sangat relevan dengan suasana kebangsaan. Kita menghadapi gangguan di beragam tingkatan dan kehilangan konsentrasi kolektif pada sejumlah pertanyaan kebangsaan.

DISTRAKSI

Salah satu gangguan utama berasal dari persaingan politik tanpa pemisah etis. Demokrasi semestinya memperkuat solidaritas dan tanggung jawab publik. Namun, kehidupan politik kerap direduksi menjadi persaingan, manipulasi, dan perebutan kekuasaan belaka.

Masyarakat ditarik ke dalam siklus polarisasi politik nan tak berujung. Dalam suasana seperti itu, persoalan krusial seperti kemiskinan, pendidikan, kerusakan ekologis, dan perjuangan penduduk sering kali berada di pinggiran.

Ketidaksetaraan ekonomi juga berkontribusi pada gangguan kebangsaan. Pembangunan memang terus berlanjut. Namun, banyak penduduk mengalami ketidakamanan. Bayangan bakal pengangguran massal. Belum lagi akses terbatas terhadap kesempatan dasar.

Gangguan lain muncul dari ranah digital. Teknologi memang menawarkan banyak manfaat. Informasi menyebar dengan cepat. Kebijaksanaan tumbuh lambat. Kita dengan mudah terpapar kemarahan, sensasionalisme, dan tren dangkal. Belum lagi, digitalisasi nan mewadahi kejahatan judol (judi online). Konsentrasi pada tanggung jawab moral dan sosial nan lebih dalam terkikis dengan cepat. Bangsa ini berisiko menjadi reaktif daripada reflektif.

HARAPAN

Di tengah realitas ini, angan terus muncul. Bukan dari retorika politik nan muluk-muluk. Namun, secara diam-diam dari kehidupan sederhana sehari-hari. Pada orang-orang biasa nan konsisten merawat solidaritas sosial.

Selama musibah alam, krisis sosial, dan saat-saat penderitaan, rakyat kebanyakan berulang kali menunjukkan belas kasih, kepedulian timbal balik, dan kemurahan hati. Masyarakat saling membantu melampaui perbedaan agama, etnis, alias status sosial.

Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus menghadiahkan kebenaran. Rasa takut dan ketidakpastian tidak pernah dapat menutup sejarah. Harapan spiritual bukan sebuah optimisme pasif. Ini adalah narasi keberanian untuk membangun kemanusiaan di tengah krisis.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia