Harga Avtur Melonjak 70 Persen, Industri Logistik Udara Terancam Beralih ke Darat dan Laut

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Harga Avtur Melonjak 70 Persen, Industri Logistik Udara Terancam Beralih ke Darat dan Laut Relawan dan petugas menata peralatan support berupa tenda, sandang dan pangan nan bakal dikirim ke letak musibah logsor setibanya di area logistik sementara di Pangkalam Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (9/12/2025)(Susanto/MI)

ASOSIASI Logistik Digital Economy Indonesia (ALDEI) mengungkapkan kekhawatiran mengenai lonjakan harga avtur mencapai 70 persen. Kondisi ini memicu kenaikan drastis pada tarif Surat Muatan Udara (SMU) dan menjadi tantangan pengedaran peralatan nasional, terutama di ekosistem ekonomi digital.

Wakil Ketua Umum ALDEI, Jimmi Krismiardhi, menjelaskan kenaikan biaya operasional maskapai kargo tersebut berakibat langsung pada pelaku usaha e-commerce, manufaktur, hingga pemasok nan sangat berjuntai pada kecepatan pengiriman udara.

“Lonjakan nilai avtur ini secara langsung meningkatkan biaya operasional maskapai kargo, nan kemudian diteruskan dalam corak kenaikan tarif SMU. Hal ini tentu berakibat pada pelaku usaha, khususnya sektor e-commerce, manufaktur, dan pengedaran nan mengandalkan kecepatan pengiriman udara,” ujar Jimmi dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Akibat tingginya tarif pengiriman udara, Jimmi memprediksi bakal terjadi pergeseran preferensi moda transportasi secara besar-besaran dari udara ke darat dan laut. Meski dapat menekan biaya, Jimmi mengingatkan adanya akibat berupa waktu pengiriman nan lebih panjang.

Selain itu, perpindahan ini dikhawatirkan bakal memicu penumpukan alias bottleneck baru di jalur darat dan laut jika prasarana pendukung tidak segera disiapkan.

“Perubahan preferensi moda transportasi merupakan respons alami pasar. Namun, perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan bottleneck baru di sektor darat dan laut, terutama dalam perihal kapasitas, infrastruktur, dan efisiensi distribusi,” tambahnya.

Menyikapi situasi tersebut, Jimmi mendorong adanya perbincangan konstruktif antara pelaku upaya dan pemerintah guna menjaga stabilitas logistik nasional. Pihaknya merekomendasikan beberapa langkah strategis, di antaranya optimasi multimoda dengan engintegrasikan beragam moda transportasi untuk menjaga efisiensi. Lalu, digitalisasi logistik dengan memperkuat sistem digital untuk meningkatkan visibilitas dan efisiensi biaya.

Selanjutnya, pihaknya meminta adanya pertimbangan kebijakan biaya dengan meninjau kembali komponen biaya logistik, termasuk nilai avtur, agar tetap kompetitif. Terakhir, adanya pemberian insentif sebagai upaya mendorong stimulus bagi sektor logistik nan terdampak langsung secara finansial.

Jimmi menegaskan bahwa kerjasama lintas sektor sangat diperlukan agar tantangan kenaikan nilai daya ini bisa menjadi momentum transformasi struktur logistik nasional menjadi lebih adaptif. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia